Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar mengungkapkan jika diundangkan, RED II akan menjadi kebijakan politik yang akan berdampak negatif pada industri kelapa sawit dunia. Pasalnya, berdasarkan draft RED II, kebijakan tersebut mendiskriminasi produk minyak kelapa sawit dari produk minyak nabati lain seperti; kedelai dan biji bunga matahari.
Pasalnya, dalam draft tersebut minyak kelapa sawit dikeluarkan dari pemenuhan bahan bakar nabati di Uni Eropa. "Apa yang kami lihat di dalamnya (RED II) betul-betul diskriminatif dan menganaktirikan sawit dari pemenuhan energi di Uni Eropa berdasarkan metodologi yang sama sekali tidak ilmiah dan tidak diakui secara internasional," ujar Mahendra di Kantor Kementerian Bidang Perekonomian, Selasa (26/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pernyataan bersama, pertemuan CPOPC juga akan mendorong komitmen negara anggota untuk meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit mentah (CPO) sebagai bahan bakar nabati di dalam negeri. Langkah tersebut telah dilakukan oleh Indonesia dengan mandatori campuran biodiesel 20 persen pada minyak Solar (B20).
Selanjutnya, pertemuan juga akan membahas upaya menarik investasi di sektor bahan bakar nabati ramah lingkungan (greenfuel). Masuknya investasi akan mengembangkan industri kelapa sawit dan mengerek permintaannya.
Selain itu, pertemuan juga akan mempererat koordinasi dan kerja sama di bidang standarisasi keamanan dan kesehatan produk kelapa sawit. Pasalnya, isu keamanan dan kesehatan menjadi perhatian konsumen, terutama di negara barat.
[Gambas:Video CNN]
Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun menambahkan selain meningkatkan konsumsi dalam negeri, CPOPC juga akan menjalankan misi bersama untuk memperluas pasar ke negara lain agar produksi CPO terserap. Salah satu negara yang dibidik adalah China.
"Mungkin akan diusulkan atau dijajaki kemungkinan untuk misi bersama di Tiongkok," ujarnya.
China dianggap sebagai konsumen potensial karena tengah berupaya untuk menekan emisi karbon di negaranya. Jika misi berhasil, Derom meyakini konsumsi biodiesel China akan lebih besar dari Indonesia yang berkisar 6 juta kiloliter (kl) per tahun.
Lebih lanjut, Derom juga tak menutup kemungkinan pertemuan CPOPC juga akan membahas penambahan anggota baru. Salah satu yang diusulkan Derom adalah Pantai Gading yang telah bertindak tegas dalam melawan diskriminasi minyak sawit di negaranya.