Faisal Basri Kritik Ekonomi Jokowi: Seolah Hidup di Surga

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 17:15 WIB
Faisal Basri Kritik Ekonomi Jokowi: Seolah Hidup di Surga Ekonom UI Faisal Basri menilai data-data perekonomian yang disampaikan menteri Jokowi tak menggambarkan secara keseluruhan kondisi ekonomi Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengkritik data-data perekonomian selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo yang disajikan Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Gubernur BI dan Ketua OJK. Data-data yang disampaikan, menurut dia, tak menggambarkan secara keseluruhan kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

"Tadi pagi (saat Sri Mulyani, Perry Warjiyo dan Wimboh Santoso menyampaikan paparan ekonomi) kita seolah-olah hidup di surga. Kalau betul di surga, kenapa elektabilitas Jokowi mandek di 53 persen, kepuasan harusnya meningkat luar biasa," ujar Faisal Basri dalam diskusi CNBC Indonesia Outlook 2019 di Jakarta, Kamis (28/2).

Faisal menilai punggawa-punggawa keuangan di pemerintahan Jokowi memoles data-data perekonomian yang disampaikan sedemikian rupa. Padahal, banyak masalah yang seharusnya menjadi konsen pemerintah.



"Mau pemilu ya pemilu, tapi kosmetik jangan seperti pantomim. Poin saya, tidak ada yang bicara tentang impor yang terus naik untuk pertanian, kemudian surplus nonmigas yang turun terus," kata dia.

Ia mengkritik data rasio pajak yang disebut Sri Mulyani mencapai dua digit. Padahal, angka rasio pajak tersebut memasukkan komponen Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam (SDA).

"Cara (pemerintah) meningkatkan rasio pajak dengan memasukkan PNBP. Keterlaluan menurut saya. Kalau begitu, penerimaan sumber daya alam turun, ya rasio pajak juga turun," jelas dia.


Ia juga mengkritik pernyataan Perry yang optimis rupiah akan terus menguat dan berada di bawah Rp14 ribu. Menurut Faisal, dari pernyataan Perry, BI seolah-olah hanya berharap penguatan rupiah dari doa.

"Doanya apa? Modal asing datang terus. Itu kan doa, bukan usaha. Tidak ada yang bisa menerka berapa uang yang akan datang ke RI," ungkap dia.

Faisal menekankan siapa pun presiden yang terpilih dalam pemilu mendatang tak akan berdampak terlalu buruk bagi perekonomian Indonesia di tahun ini. Ekonomi tahun ini, menurut dia, tetap akan tumbuh di kisaran 5 persen.

"Siapa pun presiden yang terpilih, pertumbuhan ekonomi 4,75 persen sudah di tangan. Tidak mungkin sampai krisi, pertumbuhan ekonomi 5 persen sudah di tangan," pungkas dia. (ulf/agi)