Minyak Terkerek Optimisme Berakhirnya Perang Dagang AS-China

CNN Indonesia | Selasa, 05/03/2019 07:20 WIB
Minyak Terkerek Optimisme Berakhirnya Perang Dagang AS-China Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat sekitar 1 persen pada perdagangan Senin (4/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap perundingan damai perang dagang yang terjadi antara AS dan China.

Selain itu, penguatan juga tertopang oleh sentimen pemangkasan produksi minyak mentah yang dilakukan Rusia. Dilansir dari Reuters, Selasa (5/3), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$0,6 atau 0,9 persen menjadi US$65,67 per barel.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,79 atau 1,4 persen menjadi US$56,69 per barel. Tapi, kenaikan harga dibatasi oleh penurunan kinerja indeks pasar modal yang melemahkan sentimen pasar minyak dunia.


Sumber Reuters pada Minggu (3/3) lalu menyatakan AS dan China hampir menyelesaikan kesepakatan perdagangan yang akan menghentikan pengenaan tarif pada setidaknya US$200 miliar produk China. Hal itu seiring komitmen China untuk melakukan perubahan struktural ekonomi dan mengakhiri pengenaan tarif balasan.


Perang dagang AS-China selama ini memicu kekhawatiran terhadap pelemahan laju perekonomian global. "Yang digarisbawahi adalah optimisme di sekitar situasi perdagangan," ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger.

Selain itu, Yawger juga menilai pernyataan Menteri Energi Rusia Alexander Novak terkait percepatan pencapaian target pemangkasan produksi Rusia pada Maret 2019 juga mempengaruhi harga minyak di pasar. Rusia merupakan sekutu Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang turut menyepakati komitmen pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai Januari 2019.

Sumber OPEC kepada Reuters menyatakan OPEC dan sekutunya atau OPEC+ kemungkinan akan memutuskan kebijakan produksi baru pada Juni 2019 mendatang, bukan pada pertemuan April 2019 di Wina, Austria.

Kebijakan pemangkasan produksi OPEC+ akan sangat bergantung kepada sejauh mana dampak pengenaan sanksi AS terhadap anggota OPEC, Iran dan Venezuela. Survei Reuters mencatat pasokan minyak dari OPEC menyentuh level terendah dalam empat tahun terakhir pada Februari 2019 lalu.

[Gambas:Video CNN]

Penurunan pasokan terjadi seiring pengurangan produksi minyak Arab Saudi yang ternyata lebih besar dari kesepakatan. Selain itu, sanksi AS juga berdampak pada pasokan minyak dari Venezuela.

"Sepertinya OPEC dan Arab Saudi tengah menunjukkan kemampuannya untuk membatasi pasokan," ujar Wakil Kepala Senior INTL Hencorp Future Thomas Saal di Miami.

Menurut Saal, jika narasi tersebut tetap terjadi, pasar tetap akan kuat. Pemangkasan produksi OPEC+ telah mengerek harga minyak lebih dari 20 persen sejak awal tahun di tengah melonjaknya produksi minyak AS.

Survei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah AS membengkak pekan lalu. Sementara, stok produk kilang kemungkinan akan merosot selama 3 pekan berturut-turut.
Di Libya, perusahaan minyak nasional (NOC) menyatakan produksi akan kembali ke level 315 ribu bph seiring beroperasinya lapangan minyak El Sharara ke level produksi normalnya dalam beberapa hari ke depan. Hal itu akan menambah pasokan minyak mentah global.

Lapangan minyak El Sharara ditutup pada Desember lalu saat aparat keamanan dan kelompok suku mendudukinya.
(sfr/agt)