Stok Turun di Luar Dugaan, Harga Minyak Menguat

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 07:05 WIB
Stok Turun di Luar Dugaan, Harga Minyak Menguat Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah global menguat sekitar 2 persen pada perdagangan Rabu (27/2), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi setelah stok minyak AS di luar dugaan merosot pekan lalu. Selain itu, sikap Arab Saudi yang mengacuhkan komentar Presiden AS Donald Trump yang ingin mencegah kenaikan harga minyak juga turut mengerek harga.

Dilansir dari Reuters, Kamis (28/2), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,44 atau 2,6 persen menjadi US$56,94 per barel. Persentase kenaikan harian tersebut merupakan yang terbesar selama hampir empat pekan.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$1,18 atau 1,8 persen menjadi US$66,39 per barel.


Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah AS merosot 8,6 juta barel pekan lalu. Padahal, sejumlah analis tadinya memperkirakan stok minyak AS bakal menanjak 2,8 juta barel.


Penurunan stok yang terjadi setelah kenaikan selama lima pekan berturut-turut itu akibat net impor minyak mentah yang melambat ke level 2,6 juta barel per hari (bph). Kondisi itu terjadi seiring penurunan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pengenaan sanksi terhadap Venezuela.

"Secara keseluruhan, ini (laporan stok minyak mentah) merupakan laporan positif dengan penguatan permintaan dan saya pikir Anda telah melihat dampak dari pemangkasan (produksi) OPEC)," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, santai menanggapi komentar Trump melalui akun Twitternya pekan ini. Trump meminta kelompok kartel minyak itu untuk melonggarkan kebijakan pemangkasan produksi.

"25 negara sedang mengambil pendekatan yang sangat lamban dan terukur," ujar Falih di Riyadh dalam laporan CNBC yang dikutip Reuters.

Menurut Falih, sama seperti yang dibuktikan pada paruh kedua 2018, keinginan utama OPEC adalah agar market stabil terlebih dahulu.


Sejauh ini, harga minyak dunia telah menanjak lebih dari 20 persen pada tahun ini. Penguatan tersebut tak lepas dari kebijakan pemangkasan produksi OPEC dan sekutunya sebesar 1,2 juta barel mulai Januari 2019 lalu. Kebijakan itu rencananya akan berlaku selama enam bulan untuk mencegah surplus pasokan global di tengah melonjaknya produksi minyak mentah AS.

Falih menyatakan OPEC kemungkinan dapat memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi hingga akhir 2019.

Sementara, pemerintah AS mencatat produksi minyak mentah AS tercatat mencapai rekor tertinggi selama dua pekan berturut-turut dengan menyentuh level 12,1 juta bph pekan lalu.

Di Riyadh, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammed Barkindo menyatakan mengelola pasokan global sulit ketika dua anggotanya, Iran dan Venezuela, dikenakan sanksi oleh AS.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak juga menyatakan pasar minyak kurang lebih stabil pada pekan ini. Selain itu, volatilitas harga, yang tak diinginkan oleh produsen dan konsumen, juga rendah. (sfr/agi)