Menyusuri 'Serbuan' Kantong Plastik dari Pluit

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Jumat, 08/03/2019 13:16 WIB
Ilustrasi pabrik kantong plastik. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Tangerang, CNN Indonesia -- Tiga pria berseragam biru terlihat sigap memasukkan kantong plastik hitam pekat ke dalam bungkus kemasan. Kegiatan mereka diiringi suara dengung mesin pengolah biji plastik.

Di lantai dua, beberapa karyawan menyortir kantong plastik sesuai ukuran, lalu memasukkannya ke karung. Sementara, karyawan lainnya berkeliling mengecek pergerakan mesin pengolah biji plastik, pemotong kantong plastik, dan alat untuk mengikat kantong plastik yang sudah dikumpulkan sesuai ukuran dan merk.

Kondisi ini memperlihatkan kesibukan yang sedang terjadi di pabrik kantong plastik milik PT Batu Mas Murni di kawasan Pluit, Jakarta.


General Manager Batu Mas Murni Justin Wiganda mengatakan pabriknya tetap berjalan normal di tengah berbagai isu yang mungkin perlahan dapat 'membunuh' bisnis produsen kantong plastik. Setelah beberapa pemerintah daerah (pemda) mengeluarkan larangan penggunaan kantong plastik, kini pengusaha ritel ikut-ikutan untuk menerapkan kebijakan plastik berbayar.

Ibarat laut yang selalu diterpa badai, industri kantong plastik kerap disalahkan atas banyaknya jumlah sampah plastik di Indonesia. Padahal, Justin menyebut kontribusi kantong plastik terhadap sampah tak sampai 10 persen.

"Dari berbagai risetnya katanya kan plastik menyumbang 14 persen sampah di Indonesia, nah kantong kresek atau kantong plastik ini hanya sekian persen yang kecil sekali dari 14 persen itu," ungkap Justin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/3).


Dalam riset Sustainable Waste Indonesia (SWI) yang terbit pada 2018, beberapa jenis sampah yang banyak dihasilkan adalah sampah organik sebanyak 60 persen, plastik 14 persen, kertas 9 persen, metal 4,3 persen, kemudian kaca, kayu, serta bahan lainnya sebesar 12,7 persen.

Justin pun berpendapat penggunaan kantong plastik seharusnya bukan menjadi isu selama masih bisa didaur ulang. Dengan demikian, kantong plastik bukan menjadi barang yang hanya satu kali pakai.

"Misalnya orang setelah dari minimarket kan dapat kantong plastik tuh, biasanya kan digunakan untuk membungkus lagi sampahnya di rumah atau bungkus apa. Jadi tidak satu kegunaan saja," terang Justin.

Ia menyebut kantong plastik yang diproduksi di pabrik milik Batu Mas Murni juga mencakup plastik daur ulang. Dengan demikian, bahan bakunya juga tak hanya berasal dari biji plastik murni, tetapi juga daur ulang. Terkadang, perusahaan juga melakukan impor bila pasokan di dalam negeri sedang habis.

"Mungkin 60 persen produksi daur ulang, 40 persen original atau bahan baku murni. Biji plastik murni kami beli dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk," ucap Justin.

Setelah melalui berbagai proses, hasil daur ulang kantong plastik menjadi biji plastik yang dapat digunakan kembali untuk membuat kantong plastik. (CNN Indonesia/Safir Makki).

Meski demikian, menurut dia, komposisinya tak selalu sama. Terkadang, dalam satu bulan perusahaan juga bisa memproduksi lebih banyak kantong plastik dari biji plastik murni. Hal itu bergantung pada pemesanan kliennya. Yang pasti, dalam satu bulan produksi kantong plastik rata-rata 400 ton.

Seluruh kantong plastik itu nantinya akan dikirimkan ke klien yang berada di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang- "Biasanya konsumen kami kebanyakan penjual kantong plastik, ada yang kami distribusikan sendiri tapi beberapa kerja sama dengan distributor," ujar Justin.

Hampir seluruh kantong plastiknya, sambung Justin, digunakan oleh pasar tradisional, bukan toko ritel modern. Kantong plastiknya, antara lain digunakan oleh pedagang pasar, toko buah di pinggir jalan, dan warung sembako.

"Toko ritel-ritel seperti Indomaret, Alfamart, Alfamidi itu tidak. Mereka kan ada printing (cetak) tulisan juga kan, kami produksi plastik polos," ucap Justin.

Justin menyebut biasanya toko ritel besar memesan kantong plastik kepada pabrik yang sudah memiliki alat cetak tulisan. Sementara, Batu Mas Murni belum memiliki alat tersebut.


Makanya, komitmen toko ritel modern yang menjadi anggota Asosiasi Perusahaan Ritel (Aprindo) untuk menerapkan kebijakan plastik berbayar sejatinya tak berdampak secara langsung terhadap kelangsungan usaha Batu Mas Murni. Terlebih, beberapa daerah yang melarang penggunaan kantong plastik berada di luar pasar perusahaan.

"Yang sudah melarang kan Bogor, Bali, Banjarmasin," imbuh Justin.

Sejauh ini, hanya kota Bogor yang memiliki aturan larangan penggunaan kantong plastik, tapi tidak di kabupatennya. Dengan demikian, ceruk pasar Batu Mas Murni diklaim belum terganggu.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahan baku biji plastik hasil daur ulang biasanya ia dapatkan langsung dari pabrik daur ulang di Tangerang, Banten. Pabrik itu masih satu manajemen dengan Batu Mas Murni, tapi berada di bawah PT Master Bumi Plastika.

"Hampir 90 persen biji plastik hasil daur ulang dari pabrik di Tangerang dikirim ke Pluit, sisanya ada konsumen lain yang beli di Jabodetabek juga," papar Justin.

CNNIndonesia.com juga memiliki kesempatan untuk bertandang ke pabrik daur ulang tersebut. Kondisi pabrik terlihat jauh lebih luas dari pabrik yang berada di Pluit.


Di bagian belakang pabrik terdapat area khusus untuk menyimpan sampah-sampah dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi dan Tangerang. Nantinya, sampah tersebut akan dimasukkan ke dalam mesin untuk dicuci dan diolah menjadi biji plastik hasil daur ulang.

Rata-rata, kata Justin, pabrik di Tangerang memproduksi 1.000 ton biji plastik. Namun, tak semua bahan baku berasal dari sampah kantong plastik, sebagian kecil juga berasal dari kantong plastik murni yang dipesan di Chandra Asri Petrochemical.

"Tergantung permintaan, kantong plastik mau dari bahan baku sampah kantong plastik atau murni. Tapi dua-duanya tetap disebut hasil daur ulang, tapi kalau dari Chandra Asri kantong plastiknya belum digunakan sama sekali saja," jelas Justin.

Menurutnya, jumlah sampah kantong plastik yang diolah di pabrik sebenarnya mencapai lebih dari 6 ribu ton per bulan. Hanya saja, sampah plastik yang diperoleh dari Bantar Gebang dan Tangerang kebanyakan tak bisa diproses menjadi biji plastik.

"Apa yang kami ambil di Bantar Gebang dan Tangerang susutnya mencapai 85 persen, yang tidak bisa dipakai kemasan-kemasan plastik, botol itu kan tidak bisa kami olah untuk biji plastik," kata Justin.


Bersambung di halaman berikutnya...

Jantung Industri Plastik Berdebar-debar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2