Darmin mencatat, sepanjang 2018 kemarin ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu tersebut hanya mampu tumbuh 17,7 persen. Pertumbuhan ekspor tersebut merosot tajam jika dibandingkan 2017 yang masih bisa tumbuh 45 persen.
Pukulan juga terjadi pada ekspor Indonesia ke AS. Bila pada 2017 kemarin, ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam masih bisa tumbuh 10,9 persen, pada 2018 kemarin hanya tinggal 3,6 persen saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini lebih jelek lagi yang India. Ini urusan kelapa sawit membuat ekspor minus 2,5 persen," katanya di Jakarta, Selasa (12/3).
Maklum saja, di tengah ekspor yang memble, impor justru tumbuh di atas 20 persen.
[Gambas:Video CNN]
"Seandainya tidak ada itu tekanan, apabila ekspor dan impor seimbang, ekonomi kita tidak akan ketarik ke bawah," katanya.
Darmin mengatakan walau mendapatkan tekanan, ekonomi Indonesia masih beruntung. Pasalnya, di tengah tekanan yang bertubi-tubi, ekonomi dalam negeri sepanjang 2018 kemarin masih berhasil tumbuh 5,17 persen.
Memang, jika dibandingkan dengan target APBN-P 2018 yang dipatok di level 5,4 persen, ekonomi tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan pemerintah.
(aud/agt)