Sentimen Global Bikin Rupiah Naik Tipis Rp14.265 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 16:42 WIB
Sentimen Global Bikin Rupiah Naik Tipis Rp14.265 per Dolar AS Ilustrasi dolar AS. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.265 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (13/3) sore. Posisi rupiah menguat tipis 0,01 persen dibandingkan penutupan pada Selasa (12/3) yakni Rp14.266 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.269 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.251 per dolar AS. Rupiah pada hari ini diperdagangkan di kisaran Rp14.245 hingga Rp14.282 per dolar AS.

Sore ini, mata uang Asia bergerak bervariasi. Ada beberapa mata uang yang mengalami pelemahan seperti won Korea Selatan sebesar 0,26 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,13 persen, yuan China sebesar 0,04 persen, dan dolar Singapura sebesar 0,01 persen.



Sementara itu, mata uang Asia yang menguat adalah yen Jepang sebesar 0,04 persen, baht Thailand sebesar 0,07 persen, dan peso Filipina sebesar 0,13 persen. Kemudian, rupee India menjadi juara di Asia kali ini dengan penguatan 0,22 persen.

Kondisi serupa juga terjadi di negara-negara maju. Mata uang seperti dolar Australia melemah 0,27 persen terhadap dolar AS, namun mata uang seperti poundsterling Inggris dan Euro masing-masing menguat 0,63 persen dan 0,03 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan hari ini rupiah diembus baik sentimen positif maupun negatif. Sentimen positifnya adalah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dirilis Selasa (12/3) malam sebesar 0,1 persen, atau lebih rendah dari ekspektasi yakni 0,2 persen.

Dengan inflasi yang melemah, maka ada sinyal pertumbuhan ekonomi AS yang masih belum membaik. "Sehingga nanti ada ekspektasi bank sentral AS The Fed menahan suku bunganya," jelas Ariston kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/3).


Di sisi lain, rupiah juga mendapat tekanan dari hasil pemungutan suara Parlemen Inggris terhadap proposal Brexit yang diajukan Theresa May Selasa (12/3) malam. Sesuai hasil voting tadi malam, 391 suara menolak proposal May sementara 242 suara mendukung proposal tersebut.

Ini membuka kemungkinan perpanjangan jangka waktu keluarnya Inggris dari Uni Eropa dari tenggat semula 29 Maret 2019. Atau bisa jadi keluarnya Inggris dari Uni Eropa bersifat tanpa kompensasi (no deal). Jika hasilnya no deal, maka impor dan ekspor barang dan jasa Inggris akan dikenakan tarif, dan itu bisa melemahkan poundtserling nantinya.

Meski mempengaruhi perdagangan kali ini, voting Brexit semalam tak begitu signifikan mempengaruhi rupiah. Pelaku pasar cenderung menanti hasil voting nanti malam untuk menentukan nasib no deal Brexit.

"Kalau memang hasilnya no deal, itu akan mendorong sentimen negatif bagi emerging market," jelasnya.
[Gambas:Video CNN] (glh/agi)