Harga Minyak Dunia Menguat di Sepanjang Pekan Lalu

CNN Indonesia | Senin, 18/03/2019 07:05 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat di Sepanjang Pekan Lalu Ilustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat sepanjang pekan lalu. Penguatan didorong oleh kemungkinan perpanjangan kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Namun, kenaikan harga masih dibatasi oleh kekhawatiran investor terhadap perekonomian global dan tingginya produksi minyak Amerika Serikat (AS).

Dilansir dari Reuters, Senin (18/3), harga minyak mentah berjangka AS menguat 4,1 persen secara mingguan menjadi US$58,52 per barel. Pekan lalu, harga WTI sempat menyentuh level tertingginya untuk tahun ini di posisi US$58,95 per barel.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent sebesar 1,9 persen menjadi US$67,16 per barel. Harga Brent menyentuh level tertingginya untuk tahun ini US$68,14 per barel pada perdagangan Kamis (14/3) lalu.


Pada perdagangan Jumat (15/3) lalu, kedua harga acuan sedikit melemah secara harian di mana WTI dan Brent masing-masing turun US$0,09 dan Brent US$0,07 per barel.

Analis Price Futures Group Phil Flynn menilai pasar sedikit mengambil jeda pada perdagangan Jumat (15/3) lalu. Jeda tersebut digunakan untuk mencerna berbagai laporan yang memberikan gambaran tentang pasokan dan permintaan di masa mendatang.

"Pertemuan OPEC+ dapat memberikan kita sedikit arahan," ujarnya di Chicago.


OPEC dan sekutunya atau dikenal dengan istilah OPEC+ telah melaksanakan kebijakan pemangkasan produksi sejak Januari 2019. Kebijakan itu utamanya untuk menekan membanjirnya pasokan global seiring kenaikan produksi minyak shale AS.

Para Menteri negara OPEC+ akan bertemu untuk menentukan kebijakan terkait produksi pada 17-18 April 2019 mendatang.

"Jika OPEC+ memutuskan untuk memperpanjang (kebijakan pemangkasan), kami perkirakan stok (minyak) akan terus menurun setidaknya sampai kuartal III," tutur bank investasi AS Jefferies.


Pada Jumat (15/3) lalu, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar dapat mengalami surplus pada kuartal I 2019 sebelum berganti menjadi defisit sekitar 0,5 juta barel per hari (bph) pada kuartal II 2019.

Bantalan pasokan yang nyaman dari OPEC dapat mencegah terjadinya reli kenaikan harga jika terjadi gangguan. Selain itu, pertumbuhan produksi minyak dari negara non OPEC, utamanya AS, seharusnya menjamin permintaan dapat terpenuhi.

Pekan lalu, perusahaan energi AS memangkas jumlah rig minyak beroperasi selama empat pekan berturut-turut. Berdasarkan catatan perusahaan layanan di sektor energi Baker Hughes, operator mengurangi satu rig pekan lalu sehingga jumlahnya menjadi 833, terendah sejak April 2018.


Dengan aktivitas pengeboran yang melemah, pemerintah AS memangkas proyeksi pertumbuhan produksi minyak mentah domestik menjadi 12,3 juta bph.

Kenaikan harga minyak telah dibatasi oleh kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di sebagian besar negara-negara di Asia dan Eropa. Perlambatan ekonomi tersebut dikhawatirkan bakal menekan pertumbuhan permintaan bahan bakar.

Kendati demikian, konsumsi minyak mentah sejauh ini masih mampu bertahan. Pemerintah China mencatat konsumsi minyak mentah domestik pada dua bulan pertama tahun ini masih menanjak 6,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi 12,68 juta bph.

Goldman Sachs menyatakan pertumbuhan permintaan minyak mentah global pada Januari 2019 hampir mencapai 2 juta bph. Kuatnya permintaan terlihat baik di negara berkembang maupun negara maju.


[Gambas:Video CNN] (sfr/bir)