Sanksi AS ke Iran dan Venezuela Angkat Harga Minyak

CNN Indonesia | Jumat, 08/03/2019 07:45 WIB
Sanksi AS ke Iran dan Venezuela Angkat Harga Minyak Ilustrasi harga minyak. (Foto: REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Kamis (7/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan ditopang oleh kebijakan pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pengenaan sanksi AS kepada Venezuela dan Iran.

Namun, kenaikan dibatasi oleh merosotnya kinerja pasar modal dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan permintaan. Dilansir dari Reuters, Jumat (8/3), harga minyak mentah berjangka Brent menanjak US$0,26 atau 0,4 persen menjadi US$66,25 per barel pada pukul 11:43 EST.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,45 atau 0,8 persen menjadi US$56,67 per barel.


"Gambaran besarnya, fundamental jangka pendek sangat kuat," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.


Kendati demikian, Flynn menilai masih ada kecemasan terkait pasokan. OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat memangkas produksi untuk mengetatkan pasar minyak. Kebijakan tersebut telah menopang harga.

Selain itu, para pedagang (trader) menilai pengenaan sanksi AS terhadap industri perminyakan Iran dan Venezuela, yang merupakan anggota OPEC, juga berimbas pada kenaikan harga minyak mentah berjangka.

Pekan ini, perusahaan minyak pelat merah Venezuela PDVSA mengumumkan darurat kemaritiman. Pasalnya, perusahaan kesulitan mengakses kapal tanker dan awaknya untuk mengekspor minyak akibat pengenaan sanksi.

Sementara, saat Gedung Putih mengenakan sanksi kembali terhadap Iran pada November lalu, AS memberikan pengecualian pemberlakuan sanksi terhadap delapan negara konsumen minyak Iran. Pengecualian tersebut memungkinkan konsumen tersebut untuk tetap membeli minyak dari Iran selama 180 hari.

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah AS telah memberikan tekanan kepada delapan pemerintah negara yang mendapatkan pengecualian pemberlakuan sanksi untuk secara bertahap mengurangi impor minyak dari Iran ke level nol. Namun demikian, importir minyak Iran masih bernegosiasi untuk mendapatkan kemungkinan perpanjangan.

Salah satunya, India yang ingin tetap membeli minyak dari Iran di level 300 ribu barel per hari (bph). Dua sumber dari India menyatakan, India tengah bernegosiasi dengan AS untuk memperpanjang batas waktu pengecualian hingga awal Mei 2019.

Sinyal penguatan penguatan produk kilang dari Badan Administrasi Informasi Energi AS yang dirilis pekan ini juga mengungkit harga minyak. Di sisi lain, harga mendapatkan tekanan oleh kekhawatiran terhadap perekonomian Eropa.

Hal itu menekan kinerja pasar saham Wall Street dan memicu kekhawatiran terhadap permintaan minyak global. Untuk menstimulasi perekonomian Uni Eropa, Bank Sentral Eropa (ECP) menunda rencana kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kalinya pascakrisis menjadi paling cepat tahun depan. ECB juga akan mengguyur perbankan dengan sejumlah dana.

"Banyak kekhawatiran terkait perekonomian Eropa," ujar Flynn.

Menurut Flynn, karena Gubernur ECB Mario Draghi terdengar sedikit pesimistis terhadap pertumbuhan, pasar modal dan pasar minyak merespon dengan aksi jual besar-besaran.

Lebih lanjut, pasokan AS masih tetap berlimpah akibat melesatnya produksi minyak AS. Pekan lalu, produksi minyak AS mencapai 12,1 juta bph.

(sfr/agt)