Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Lu Kang mengatakan kunjungan kenegaraan Xi tersebut rencananya akan dilakukan mulai 21 Maret sampai dengan 26 Maret. Tapi, ia tidak merinci secara lebih lengkap mengenai tujuan yang ingin dicapai Xi dalam kunjungan tersebut.
Cuma, seorang pejabat Italia beberapa waktu lalu mengatakan, Roma akan menandatangani nota kesepahaman yang tidak mengikat dengan Beijing untuk secara resmi mendukung Program Jalur Sutera Modern (Belt and Road Initiative) yang dijalankan China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China saat ini memang tengah mengembangkan Jalur Sutera Modern. Program digagas oleh Presiden Xi Jinping.
Program tersebut dijalankan untuk meningkatkan perdagangan dan investasi. Selain itu, program tersebut juga dijalankan untuk mempermudah pertukaran ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan pendidikan. Untuk mewujudkan ambisinya tersebut China siap menggelontorkan dana US$124 miliar.
Dana tersebut bisa dipinjam oleh negara yang mau membangun infrastruktur tapi tidak memiliki anggaran yang cukup. Beberapa negara sudah memanfaatkan pinjaman tersebut. Salah satunya Pakistan yang sudah menerima pendanaan senilai US$62 miliar.
Indonesia juga turut menikmati pembiayaan dari China untuk pembangunan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tapi pelaksanaan program tersebut dianggap sinis oleh sejumlah kalangan.
Program tersebut mereka nilai merupakan jebakan utang China kepada negara lain. Satu studi yang dilakukan oleh Pusat Pembangunan Global, satu lembaga peneliti AS, menemukan "kekhawatiran serius" terkait keberlanjutan utang asing di delapan negara penerima dana program tersebut.
Kekhawatiran tertuju untuk Pakistan, Djibouti, Maladewa, Mongolia, Laos, Montenegro, Tajikistan dan Kyrgyztan. Studi ini menjelaskan bahwa biaya Proyek Kereta China-Laos, sebesar US$6,7 miliar, adalah hampir setengah dari PDB negara-negara Asia Tenggara.
[Gambas:Video CNN]
(agt/afp/agt)