ANALISIS

Jangan Terlalu Rendah Tetapkan Tarif Ojek Online

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 08:05 WIB
Jangan Terlalu Rendah Tetapkan Tarif Ojek Online Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah tengah mengkaji besaran tarif ojek online. Rencananya, tarif tersebut akan ditentukan dan diumumkan pada pekan depan.

Pihak pengemudi mengajukan usulan tarif sebesar Rp3.000 per kilometer (km). Sementara, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginginkan tarif ojek online hanya sekitar Rp2.400 per km.

Pasalnya, usulan tarif dari pengemudi tersebut hampir mencapai dua kali dari besaran biaya pokok operasional Rp1.600 per km. Budi Karya menyadari operator dan pengemudi memang harus mengambil untung bagi hasil dari kerja sama.


Namun, hal tersebut seharusnya tidak menjadikan besaran tarif ojek online sampai dua kali lipat dari biaya pokok operasional. "Kalau hampir dua kali lipat, takutnya penumpang (keberatan)," ucapnya, Selasa (20/3).


Di sisi lain, menurutnya, tarif sebesar Rp2.400 per km sudah mempertimbangkan berbagai komponen biaya yang menjadi tanggungan pengemudi, seperti penyusutan kendaraan, bunga modal, asuransi, pajak kendaraan bermotor, bahan bakar minyak, ban, pemeliharaan dan perbaikan, penyusutan telepon seluler, hingga pulsa atau kuota internet dan profit.

Pengamat transportasi dan perkotaan dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna menilai usulan tarif dari kedua belah pihak sejatinya tidak jauh berbeda dan masih relatif masuk ke kantong masyarakat. Justru, menurutnya, tarif ojek online seharusnya jangan terlalu rendah.

Pasalnya, tarif menjadi pilar penting dalam pembentukan ekosistem ojek online sebagai angkutan umum.

"Kehadiran aturan ini bisa dikatakan sebagai sikap melegalkan ojek online sebagai angkutan umum, walau bertentangan dengan undang-undang soal angkutan motor. Maka, penataan (ekosistem) perlu serius dilakukan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

[Gambas:Video CNN]

Lebih lanjut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan ekosistem ojek online yang berkaitan dengan tarif. Pertama, komponen yang menyumbang biaya pokok operasional. Ia setuju dengan pemerintah yang mempertimbangkan berbagai komponen rinci pembentuk biaya operasional bagi pengemudi.

"Jangan sampai terlalu rendah dan membuat biaya operasional tidak tertutup, karena selama ini biaya operasional cukup besar ditanggung sendiri oleh pengemudi," ungkapnya.

Kedua, margin keuntungan bagi operator. Menurutnya, selayaknya bisnis pada umumnya, tentu operator ingin mendapat keuntungan dari jasa antar penumpang. Margin harus menguntungkan, namun tak elok pula bila terlalu tinggi dan mencekik masyarakat sebagai penumpang.

Soal margin, ia mengatakan pemerintah harus pula mempertimbangkan margin keuntungan yang ingin didapat operator atas alasan subsidi. Maklum saja, operator ojek online biasanya tidak hanya menjalankan jasa antar penumpang, tapi juga barang dan makanan.


Namun, permintaan jasa antar penumpang biasanya lebih tinggi ketimbang jasa antar barang dan makanan. Dari sini, biasanya ada subsidi yang dijalankan operator dari margin yang didapat dari jasa antar penumpang ke jasa antar barang.

Contohnya, biaya antar makanan biasanya lebih rendah dari penumpang dan barang. Padahal, jarak yang ditempuh terkadang sama saja atau bahkan lebih jauh. "Perlu dihitung pula berapa dampak ketentuan batas tarif ke persoalan subsidi tersebut," imbuhnya.

Ketiga, kewajiban operator. Ia menjelaskan pengenaan tarif ojek online mungkin jangan terlalu rendah pula agar menjadi sebuah paksaan bagi operator untuk menunaikan kewajibannya terkait pembangunan tempat menjemput dan menurunkan penumpang (shelter). Hal ini penting untuk menciptakan ekosistem transportasi menggunakan ojek online.

Menurutnya, kehadiran ojek online memang membantu mobilitas masyarakat. Namun di sisi lain bila naik turun penumpang dilakukan di pinggir jalan, maka sikap tersebut bisa menimbulkan kemacetan dan memberikan kerugian ekonomi bagi masyarakat yang lain.


"Membangun shelter ini penting, jangan naik turun di pinggir jalan. Kalau pun sudah ada shelter harus dirawat, driver-nya jangan merokok di sana, jangan ada starling alias tukang kopi keliling, penumpang dipaksa ke sana. Pokoknya agar shelter ini jadi ekosistem baru," jelasnya.

Keempat, pengaturan tarif tentu harus pula memperhatikan kemampuan pengeluaran masyarakat. Menurutnya, tarif tidak bisa dibuat terlalu tinggi karena akan memberatkan masyarakat.

Tapi, tarif juga jangan pula terlalu rendah. Ia khawatir bila tarif terlalu rendah, lalu ada kenaikan dengan cepat, maka bisa menekan minat penggunaan masyarakat kepada ojek online ke depannya.

Kelima, sekalipun tarif ojek online tidak bisa dibuat terlalu rendah, maka ketika tarifnya cukup tinggi, operator harus bisa memastikan bahwa pengemudi yang diberikan ke penumpang memiliki standar pelayanan yang baik.


"Jangan sampai masyarakat sudah bayar dengan tarif yang cukup tinggi, tapi pelayanan dan standar driver buruk," terangnya.

Sementara, pengamat transportasi lain yang juga dari Universitas Trisakti Fransiskus Trisbiantara mengatakan tarif ojek online jangan terlalu rendah. Pasalnya, tarif yang rendah riskan membuat operator tidak melakukan pembangunan shelter.

"Shelter ini mutlak, jadi kalau tarif terlalu murah juga percuma, lebih baik harga yang tinggi sedikit, tapi kewajiban dipenuhi," tuturnya.

Suara Masyarakat

Letina Salim (32), perempuan yang sehari-hari bekerja di perusahaan agensi itu menginginkan tarif ojek online tetap terjangkau. Sebab, ia mengaku cukup sering menggunakan ojek online; mencapai empat kali dalam sehari.

Pertama, dari rumahnya di daerah Bukit Mas menuju Stasiun Depok. Kedua, dari Stasiun Cawang ke kantornya di kawasan Kuningan Jakarta Selatan. Ketiga, dari kantor menuju Stasiun Cawang. Keempat, dari Stasiun Depok ke rumahnya.


"Hidup saya pakai ojek online banget, sehari bisa empat kali, bisa Rp30-40 ribu. Kalau naik, misal sampai Rp50-60 ribu, itu lumayan sekali untuk ongkos," katanya.

Lebih lanjut, menurut Leti, kenaikan seharusnya tidak terjadi dalam waktu dekat karena pelayanan ojek online belum benar-benar meningkat. "Seharusnya ada harga, ada pelayanan, memang sih untuk beli bensin, tapi masa iya pelayanannya kadang asal, tapi harganya naik," imbuhnya.

Berbeda dengan Leti, Bagas Aji (29) mengaku tak keberatan dengan wacana penetapan batas tarif ojek online yang cenderung membuat tarif meningkat. Asal, berbagai promo tetap bisa diberikan kepada penumpang.

"Ya tidak apa sih naik, asal sekali-kali tetap ada itu promonya. Ditambah juga sama kelengkapan mengemudi, sekarang sudah jarang yang sediakan masker dan penutup kepala. Kalau dulu sudah harganya murah banget, masih dapat juga, sekarang tidak," katanya.
(agt)