Brexit, Aset Keuangan US$1,3 Triliun Meninggalkan Inggris

CNN Indonesia | Jumat, 22/03/2019 15:23 WIB
Brexit, Aset Keuangan US$1,3 Triliun Meninggalkan Inggris Ilustrasi (Reuters).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan perbankan dan perusahaan keuangan lain terus memindahkan aset dan lapangan kerja dari Inggris, ketika negara itu bergerak menuju keluar dari Uni Eropa (British Exit/Brexit).

Seperti dikutip dari CNN.com, Konsultan EY melaporkan perusahaan jasa keuangan di Inggris telah mengumumkan rencana untuk memindahkan £1 triliun atau setara US$1,3 triliun ke Uni Eropa. Angka itu naik dari perkiraan sebelumnya yang hanya £ 800 miliar (US$ 1,1 triliun).

Banyak bank telah mendirikan kantor baru di Jerman, Prancis, Irlandia dan negara-negara Uni Eropa lain untuk menjaga bisnis regional mereka setelah Brexit. Artinya, mereka juga harus memindahkan aset besar untuk memenuhi regulator UE.


Perusahaan lain sedang memindahkan aset untuk melindungi klien mereka dari pergerakan pasar yang liar dan perubahan mendadak dalam regulasi. Hal itu diperkirakan terjadi ketika Inggris dan mitra dagang terbesarnya pecah kongsi.


Industri jasa keuangan menyumbang sekitar 12 persen dari ekonomi Inggris, dan mempekerjakan 2,2 juta orang.

EY telah melacak terdapat sebanyak 222 perusahaan jasa keuangan terbesar di Inggris sejak referendum Brexit pada Juni 2016. Disebutkan, jumlah perusahaan yang mengumumkan pemindahan karyawan, operasi, dan aset terus bertambah seiring persiapan Brexit.

Menurut laporan EY, lapangan kerja yang akan dipindahkan dari Inggris dalam waktu dekat berjumlah 7.000 orang. Hal itu mengindikasikan Inggris bakal kehilangan potensi pajak setidaknya £ 600 juta atau setara US$ 794 juta.

EY mengatakan estimasi aset yang dipindahkan ke Eropa konservatif, namun sesuai dengan harapan Bank Sentral Eropa (ECB).


Kepala Regulasi Perbankan ECB Andrea Enria mengatakan kepada Financial Times pekan lalu bahwa bank sentral memperkirakan sekitar € 1,2 triliun (US$ 1,4 miliar) aset akan dipindahkan dari Inggris ke 19 negara Uni Eropa dengan menggunakan mata uang euro.

Skala akhir proses eksodus itu bergantung pada ketentuan perpisahan dan waktu perpisahan antara Inggris dan Uni Eropa.

Inggris akan meninggalkan Uni Eropa hanya dalam sembilan hari, tetapi Perdana Menteri Theresa May gagal memenangkan dukungan di parlemen Inggris untuk kesepakatan perpisahan yang dia lakukan dengan anggota Uni Eropa lain.

Saat ini, May meminta Uni Eropa untuk menunda Brexit hingga 30 Juni. Jika itu tidak terjadi, peluang negara keluar dari blok tanpa kesepakatan transisi pada 29 Maret meningkat.


Bank of England mengatakan dampak dari skenario itu akan lebih buruk daripada krisis keuangan 2008. Untuk lembaga keuangan, Brexit yang berantakan akan menjadi mimpi buruk, dan mereka mengambil langkah untuk membatasi kerusakan.

"Ketika hari semakin dekat, kita perlu menyadari bahwa ada risiko yang di luar kendali sektor ini," kata Omar Ali, Kepala Layanan Keuangan Inggris di EY.

"Tidak ada bisnis jasa keuangan yang tahu pasti bagaimana Brexit yang tidak tertib akan berdampak pada mereka, klien mereka, orang-orang dan rantai pasokan atau yang lebih luas, pada ekonomi Inggris," papar Omar Ali.

[Gambas:Video CNN] (CNN.com/lav)