Impor Bawang Putih, Bulog Tunggu Surat Penugasan Menteri BUMN

CNN Indonesia | Minggu, 24/03/2019 16:27 WIB
Impor Bawang Putih, Bulog Tunggu Surat Penugasan Menteri BUMN Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perum Bulog mengaku sedang melengkapi persyaratan administrasi untuk mengimpor bawang putih sebesar 100 ribu ton. Hal itu salah satunya menunggu surat penugasan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbit.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar Utomo menjelaskan perseroan harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian sebelum melakukan pembelian bawang putih dari China.

"Kementerian Pertanian pasti sudah mengizinkan berdasarkan hasil rakortas (rapat koordinasi terbatas) itu. Hal yang ditunggu Bulog sekarang tinggal surat penugasan dari Menteri BUMN," kata Bachtiar seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Minggu (24/3).


Setelah mendapat kelengkapan administrasi dari Kementerian Pertanian dan Kementerian BUMN, maka proses selanjutnya adalah mengajukan izin ke Kementerian Perdagangan untuk mendapatkan persetujuan impor (PI).


Segera setelah administrasi lengkap, Bulog akan langsung melakukan lelang impor bawang putih secara terbuka. Rencananya, bawang putih sebanyak 100 ribu ton akan didatangkan dari China secara bertahap mulai April 2019.

"Kami langsung tender (lelang) untuk cari barang termurah. Kalau China tidak terlalu lama, tidak seperti Brasil dan Argentina, sekitar tiga mingguan. Kami usahakan bulan April sudah masuk," kata Bachtiar.

Pembukaan impor bawang putih sebesar 100 ribu ton melalui Bulog diputuskan berdasarkan rakor terbatas pada Senin (18/3), yang dipimpin Menko Perekonomian Darmin Nasution.


Keputusan itu dilatarbelakangi oleh kenaikan harga komoditas bawang putih hingga rata-rata mencapai Rp45 ribu-Rp50 ribu per kilogram (kg) di tingkat pedagang. Penyebabnya, karena pasokan berkurang.

Dalam catatan Kementerian Perdagangan, bawang putih menjadi salah satu bahan pangan dengan stabilitas harga yang perlu dijaga karena berkontribusi terhadap inflasi pada Februari 2019 lalu.

[Gambas:Video CNN] (Antara/lav)