Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Putu Rusta Adijaya menilai hal itu terjadi karena pelambatan ekonomi AS. Nilai tukar rupiah terapresiasi seiring dengan kepercayaan investor pada ekonomi Indonesia di tengah pelambatan ekonomi global.
"Posisi dovish The Fed perlu diwaspadai oleh otoritas moneter di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Posisi itu menandakan The Fed juga concern terhadap pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksi turun 0,2 persen pada 2019 dan 0,1 persen pada 2020," papar Putu dalam keterangan tertulis, Rabu (27/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Putu juga mengimbau pemerintah perlu waspada terhadap berbagai risiko yang hadir, termasuk perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Perang dagang harus diantisipasi supaya tidak berkembang menjadi currency war atau perang nilai tukar.
Jika hal ini terjadi, maka ekspor mereka akan semakin murah sehingga barang-barang akan tersebar ke seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pada akhirnya, hal ini akan mengurangi daya saing produk Indonesia.
"Asumsi ceteris paribus, Indonesia akan mengimpor barang dari China, terjadi trade deficit, dan mempengaruhi nilai tukar Rupiah," jelas Putu.
Pemerintah juga perlu mewaspadai kondisi Current Account Deficit (CAD) karena salah satu komponen dari CAD ini adalah trade balance. Jika terjadi currency war, maka jumlahCAD akan semakin besar dan investor akan bersikap spekulatif yang akhirnya mempengaruhi nilai tukar secara mendalam. (lav/bir)