Namun, jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year), penumpang pesawat domestik turun 18,51 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan penumpang domestik merupakan imbas dari jumlah hari pada Februari yang hanya sebanyak 28 atau lebih sedikit dibanding Januari yang 31.
Selain itu, penurunan penumpang juga terjadi karena faktor kenaikan harga tiket pesawat. Kenaikan tersebut telah menurunkan minat masyarakat untuk berpergian dengan menggunakan pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tahun ini tarif tiket pesawat, dimulai sejak Januari, sudah menjadi penyumbang inflasi. Maka, ada dugaan kuat bahwa turunnya penumpang pesawat domestik berkorelasi kuat dengan harga tiket yang kian melambung.
Dugaan dia semakin kuat setelah melihat jumlah pengguna angkutan laut malah bertambah signifikan. Data BPS menunjukkan, penumpang angkutan laut menurun 3,93 persen secara bulanan dari 1,73 juta penumpang di Januari menjadi 1,66 juta penumpang di Februari. Namun, secara tahunan, penumpang angkutan laut bertumbuh 8,28 persen.
"Dan ada peningkatan penumpang signifikan di pelabuhan seperti Belawan sebesar 46,4 persen dan Tanjung Priok sebesar 18,4 persen secara bulanan. Ada dugaan karena tiket pesawat mahal, tapi ini perlu ditelusuri lagi," tutur dia.
[Gambas:Video CNN]
Menurut dia, penurunan jumlah penumpang ini masih akan terjadi di Maret karena inflasi akibat tarif pesawat masih terjadi di beberapa kota. Ia mencontohkan, tarif tiket pesawat di Tual melambung 32,18 persen secara bulanan, Bungo naik 27,38 persen, Ambon naik 20,38 persen, Malang naik 14,13 persen, dan Manokwari naik 13,12 persen.
Namun, ia berharap harga tiket pesawat bisa segera turun setelah Kementerian Perhubungan menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2019 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 72 Tahun 2019 yang mengatur tarif batas bawah 35 persen.
"Dan kemungkinan, dampak kebijakan ini bisa terlihat hasilnya mulai bulan April ini," papar dia.