Peringkat Utang Beri 'Energi' untuk Saham BUMN Perbankan

CNN Indonesia | Senin, 08/04/2019 08:57 WIB
Peringkat Utang Beri 'Energi' untuk Saham BUMN Perbankan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kenaikan peringkat utang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang terjadi baru-baru ini diperkirakan menambah 'vitamin' bagi pergerakan kedua saham bank pelat merah tersebut dalam jangka menengah.

Pada akhirnya, indeks sektor keuangan yang hanya menguat tipis 0,96 persen pekan lalu berpeluang meningkat lebih signifikan pekan ini.

Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) mengerek peringkat utang BRI menjadi BBB- dengan prospek stabil. Prospek peringkat utang Bank Mandiri juga meningkat dari status stabil menjadi positif.


Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengungkapkan kenaikan peringkat utang membawa dampak positif bagi keuangan perusahaan, khususnya ketika manajemen mencari pendanaan berupa penerbitan surat utang (obligasi). Semakin bagus peringkat utang suatu perusahaan, maka ketertarikan investor untuk membeli obligasi yang dirilis oleh manajemen juga semakin tinggi.


"Jadi ketika perusahaan merilis obligasi, potensi imbal hasil juga akan turun," kata Janson kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/4).

Perusahaan biasanya perlu menawarkan imbal hasil tinggi demi menarik investor untuk membeli obligasi tersebut. Namun, khusus perusahaan yang memiliki kualitas peringkat tinggi, investor sudah percaya pembayaran bunga akan tepat waktu atau tidak berisiko tinggi.

BRI dan Bank Mandiri tentu memiliki keuntungan. Beban biaya yang harus ditanggung oleh kedua perusahaan ini untuk membayar bunga bisa lebih rendah dari sebelumnya, sehingga kas perusahaan akan lebih tebal.

"Dampaknya sangat positif, biaya dana (cost of fund) akan turun," imbuh dia.


Maka itu, pelaku pasar bisa menggunakan sentimen ini untuk masuk ke saham Bank Mandiri dan BRI mulai pekan ini. Apalagi, saham Bank Mandiri kini sedang murah-murahnya.

Maklum, saham tersebut berakhir di zona merah akhir pekan lalu. RTI Infokom mencatat saham Bank Mandiri terkoreksi cukup signifikan sebesar 1,63 persen atau 125 poin ke level Rp7.550 per saham.

"Valuasi saham Bank Mandiri termurah dibandingkan dengan tiga terbesar lainnya," ucap Janson.

Tiga perbankan yang dimaksud, antara lain BRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Untuk mengukur murah atau mahalnya suatu saham perbankan, sejumlah analis kerap menggunakan patokan price book value (PBV). Saat ini, PBV Bank Mandiri disebut Janson sebesar 1,8 kali.


"Keuntungan yang diraih Bank Mandiri sepanjang 2018 juga sangat mengesankan mencapai (sekitar) 20 persen," paparnya.

Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp25 triliun pada 2018, naik 21,2 persen dari posisi 2017 lalu yang hanya Rp20,6 triliun. Kenaikan itu berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 5,28 persen menjadi Rp57,3 triliun dari sebelumnya Rp54,45 triliun pada 2017.

Untuk pekan ini, Janson menargetkan saham Bank Mandiri tembus ke level Rp8.600. Dengan kata lain, saham tersebut berpeluang tumbuh 13,9 persen dari posisi Jumat lalu.

Lebih lanjut Janson menjelaskan kinerja BRI juga bisa menjadi landasan bagi pelaku pasar mengoleksi saham perusahaan. Penyaluran kredit BRI diperkirakan semakin menggeliat tahun ini.

"Ini karena pengajuannya juga yang meningkat," tutur Janson.

Peringkat Utang Beri 'Energi' untuk Saham BUMN Perbankan(REUTERS/Brendan McDermid).

Menengok kinerja sepanjang 2018, laba bersih BRI tembus Rp32,4 triliun. Angka itu tumbuh 11,6 persen dibandingkan dengan 2017 lalu yang hanya Rp29 triliun.

Kredit sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi penopang utama kinerja BRI sepanjang 2018. Perusahaan mengucurkan kredit di sektor tersebut sebesar Rp645,7 triliun, 76,5 persen dari total kredit perusahaan yang sebesar Rp843,6 triliun.

Harga saham BRI tercatat menguat pada akhir pekan lalu sebesar 0,95 persen di level Rp4.260 per saham. Janson meramalkan harga saham BRI terus melaju di zona hijau menuju ke level Rp4.700 per saham.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus sependapat dengan Janson. Namun, ia menilai tanpa kenaikan peringkat utang dari S&P pun, saham BRI dan Bank Mandiri terus kokoh.


"Karena memang sektor keuangan ini luar biasa, asalkan tahu kapan harus masuknya," ujar Nico.

Bukan hanya kinerja yang selalu ciamik, tapi juga empat bank tadi masuk daftar emiten dengan saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan begitu, sektor keuangan kerap menjadi penopang utama pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Memang ada beberapa saham perbankan yang memiliki tingkat volatilitas cukup tinggi, namun ini baik untuk perdagangan jangka pendek," kata Nico.

Ia tak hanya merekomendasikan saham BRI dan Bank Mandiri, tapi juga BCA dan BNI. Untuk BRI dan Bank Mandiri masing-masing ditargetkan bergerak ke level Rp4.350 per saham dan Rp8.550 per saham, sedangkan BNI sebesar Rp10 ribu per saham dan BCA Rp28.100 per saham.


BNI dan BCA juga kompak membukukan pertumbuhan laba bersih dua digit pada 2018 lalu. BNI mengantongi keuntungan sebesar Rp15,02 triliun atau naik 10,3 persen dari sebelumnya Rp13,62 triliun. Kemudian, laba BCA meningkat 10,9 persen dari Rp23,3 triliun menjadi Rp25,9 triliun. (aud/lav)