Modal Asing Mengalir Rp75 triliun ke Surat Utang Negara

CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 18:16 WIB
Modal Asing Mengalir Rp75 triliun ke Surat Utang Negara Ilustrasi dolar AS. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia (capital inflow) netto sejak awal tahun hingga Jumat (12/4) mencapai Rp90,9 triliun.

Deputi Senior Gubernur BI Mirza Adityaswara merinci sebanyak Rp75 triliun atau 82,5 persen dari total inflow merupakan transaksi dari Surat Berharga Negara (SBN). Sementara itu, sisa Rp15,9 triliun merupakan hasil dari transaksi di pasar saham.

"Dari segi tahun kalender, SBN ini pergerakannya cukup bullish," jelas Mirza, Jumat (12/4).



Namun menurut dia, saat ini inflow untuk SBN sudah mulai melandai. Dari data yang dihimpun sejak awal April hingga saat ini, aliran dana asing untuk SBN hanya Rp1,2 triliun. Sementara itu, inflow di pasar saham mencapai Rp3,8 triliun atau tiga kali lipatnya.

Menurutnya, ini bukan indikasi bahwa SBN tidak semakin diminati. Sebab nyatanya, lelang SBN yang dilakukan belakangan tetap menunjukkan kelebihan penawaran (oversubscribe).

Sesuai data Kementerian Keuangan, hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 9 April lalu memperlihatkan penawaran sebesar Rp31,84 triliun meski nominal yang dimenangkan hanya Rp15,72 triliun. Begitu pun dengan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 2 April lalu yang ditawar Rp18,47 triliun meski pemerintah hanya menarik Rp8,03 triliun saja.


"Karena untuk SBN, mereka (investor) melihat inflasi, outlook cadangan devisa, dan defisit transaksi berjalan. Pasar SBN yang punya inflow besar ini artinya mereka percaya, apalagi selalu oversubscribe," jelas dia.

Dengan demikian, inflow secara netto hingga hari ini juga lebih besar dibanding tahun lalu yang tercatat Rp9,6 triliun. Di periode yang sama tahun lalu, inflow di pasar SBN mencapai Rp34,5 triliun, hanya saja inflow netto pasar saham mencatat minus Rp24,9 triliun.

Lonjakan inflow netto yang hampir mencapai 10 kali lipat ini, ujar Mirza, membuktikan bahwa investor masih percaya diri dengan ekonomi Indonesia. "Apalagi kalau di saham, persepsi yang mempengaruhi investor adalah outlook Produk Domestik Bruto (PDB) dan profit. Artinya persepsi investasi di Indonesia semakin baik," pungkas dia.

[Gambas:Video CNN] (glh/agi)