Sinyal Produksi Rusia Naik, Harga Minyak Melemah

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 07:06 WIB
Sinyal Produksi Rusia Naik, Harga Minyak Melemah Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia melemah hampir 1 persen pada perdagangan Senin (15/4), waktu AS. Pelemahan terjadi setelah pemerintah Rusia menyatakan Rusia dan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kemungkinan mengerek produksinya kembali. Bukan tanpa sebab, Rusia melakukan hal itu untuk menggerus pangsa pasar AS, di mana produksinya masih berada di level tertinggi.

Dilansir dari Reuters, Selasa (16/4), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level US$71,18 per barel, turun US$0,37 atau 0,5 persen. Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent sempat menyentuh level US$71,87 per barel atau tertinggi sejak 12 November 2018.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,49 atau 0,8 persen menjadi US$63,40 per barel.

Harga minyak telah terangkat lebih dari 30 persen sejak awal tahun. Penyebab utamanya adalah kesepakatan pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) sejak 1 Januari 2019 oleh OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia.


Kelompok yang juga dikenal dengn sebutan OPEC+ itu akan menggelar pertemuan pada Juni 2019 mendatang. Dalam pertemuan tersebut, OPEC+ akan memutuskan soal perpanjangan kebijakan pemangkasan produksi yang sedianya berlaku enam bulan.

Pada akhir pekan lalu, Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov menyatakan Rusia dan OPEC dapat memutuskan untuk mengerek produksi demi menggerus pangsa pasar AS. Namun, kenaikan produksi tersebut diperkirakan menekan harga lebih dalam.

"Ada sebuah dilema. Apa yang harus kami lakukan dengan OPEC, apakah kami harus kehilangan pasar, yang saat ini dikuasai AS? Atau keluar dari kesepakatan?" tutur Siluanov di Washington berdasarkan laporan kantor berita Rusia TASS yang dikutip Reuters.

Menurut Siluanov, jika kesepakatan pemangkasan produksi ditinggalkan, harga minyak akan tertekan hingga ke level US$40 per barel. Akibatnya, investasi baru akan turun. Produksi AS juga akan lebih rendah karena biaya produksi minyak shale akan lebih tinggi dari produksi minyak tradisional.


Siluanov tak mengetahui apakah negara anggota OPEC akan senang dengan skenario itu, mengingat pemimpin de facto OPEC cenderung ingin mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi. Namun, sumber Reuters dari internal OPEC menyatakan OPEC dapat mengerek produksinya mulai Juli jika gangguan produksi di tempat lain terus berlanjut.

"Sementara, Arab Saudi tetap teguh dalam mengarahkan pemangkasan tajam produksi OPEC yang sejauh ini tidak terpengaruh oleh harga Brent yang telah menembus level di atas US$70 per barel," terang Pimpinan Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Harga minyak telah mendapatkan tekanan dari melesatnya produksi minyak mentah AS akibat revolusi minyak shale. Pekan lalu, rata-rata produksi mingguannya masih di level tertinggi 12,2 juta bph.

Pemerintah AS menyatakan produksi minyak mentah shale dari 7 formasi minyak shale utama diperkirakan terkerek sekitar 80 ribu bph pada Mei 2019 mendatang menjadi 8,46 juta bph.

[Gambas:Video CNN]

Pekan lalu, jumlah rig minyak AS, yang menjadi indikator produksi mendatang, tercatat naik. Kenaikan tersebut terjadi selama dua pekan berturut-turut.

"Saya perkirakan minyak diperdagangkan di kisaran ketat sekitar US$70 per barel untuk saat ini," kata Analis Minyak Energi Aspects Singapura Virendra Chauhan.

Proyeksi tersebut dibuat Chauhan dengan memperhatikan sinyal berbeda dari AS dan OPEC terhadap pasokan mendatang.


(sfr/bir)