Pasokan Ketat, Harga Minyak Tembus US$70 per Barel

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 07:30 WIB
Pasokan Ketat, Harga Minyak Tembus US$70 per Barel Ilustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah berjangka Brent menguat hingga menembus US$70 per barel pada perdagangan Kamis (4/4), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh ekspektasi terhadap mengetatnya pasokan global yang melampaui tekanan dari kenaikan produksi AS dan risiko pelemahan permintaan global.

Dilansir dari Reuters, Jumat (5/4), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$0,9 menjadi US$69,4. Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent sempat menyentuh level US$70,03, tertinggi sejak 12 November 2018.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$0,36 menjadi US$62,1. Sehari sebelumnya, WTI sempat terdongkrak ke level US$62,99 yang merupakan level tertinggi sejak November 2018.

Sejak awal tahun, Brent telah menanjak 30 persen dan WTI menguat hampir 40 persen. Penguatan didorong oleh pengenaan sanksi AS terhadap sektor perminyakan Iran dan Venezuela, pemangkasan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan kenaikan permintaan global.


"Ada bias ke atas yang sangat jelas dengan pembatasan pasokan," ujar Direktur Strategy Pasar CMC Markets Michael McCarthy di Sidney.

Menurut McCarthy, ekspektasi yang lebih baik terhadap gambaran permintaan juga terjadi setelah rilis data indeks layanan AS dan China baru-baru ini, serta prospek terjadinya kesepakatan perdagangan antara kedua negara.

Pada Rabu (3/4) lalu, sebuah survei dari sektor layanan China menunjukkan Indeks Pembelian Layanan (PMI) Caixin/Markit naik 3,3 poin atau 6,4 persen dari 51,1 pada Februari menjadi 54,4 pada bulan lalu, tertinggi sejak Januari 2018.

Selanjutnya, Penasihat Ekonomi AS Larry Kudlow menyatakan melalui pembicaraan perdagangan antara AS-China yang digelar pekan lalu, keduanya sepakat untuk menjembatani perbedaan dalam pembicaraan lebih lanjut.


Permintaan minyak mentah juga diperkirakan bakal terdongkrak. Analis Perminyakan Energi Aspects Virendra Chauhan menuturkan dorongan terhadap permintaan terjadi seiring musim perawatan kilang yang semakin dekat.

Kendati demikian, pergerakan negatif harga minyak mentah AS mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap lemahnya permintaan dan risiko kelebihan pasokan. "Di luar satu angka dari PMI China, data ekonomi masih tidak terlalu bagus," kata Partner Again Capital John Kilduff di New York.

Menurut Kilduff, indikator lemahnya ekonomi global, termasuk pesanan pabrik yang lebih rendah di Jerman, telah membatasi pergerakan harga minyak ke atas. Berdasarkan data yang dirilis kemarin, pesanan industri Jerman pada Februari 2019 merosot, bahkan tercatat yang terendah dalam dua tahun terakhir.

Pukulan terhadap pesanan berasal dari turunnya permintaan luar negeri. Kondisi itu menambah kekhawatiran perekonomian negara terbesar Eropa yang mulai melemah tahun ini.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, pemerintah AS mencatat persediaan minyak mentah menanjak 7,2 juta barel pekan lalu, berlawanan dengan proyeksi sejumlah analis yang memperkirakan penurunan.

Lebih lanjut, data pemerintah AS juga menunjukkan produksi minyak mentah Negeri Paman Sam menguat 100 ribu barel per hari (bph) menjadi 12,2 juta bph.


(sfr/bir)