Kuartal I, Perolehan Laba Bank Mandiri Melambat

CNN Indonesia | Senin, 29/04/2019 20:43 WIB
Kuartal I, Perolehan Laba Bank Mandiri Melambat Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp7,2 triliun pada kuartal I 2019. Laba tumbuh 23,43 persen, namun pada periode sebelumnya laba melesat 43,7 persen. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp7,2 triliun sepanjang kuartal I 2019. Angka ini bertumbuh 23,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu Rp5,86 triliun.

Kendati mencetak pertumbuhan laba dua digit, sejatinya pertumbuhan laba perseroan melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal I 2018, laba perseroan tercatat 43,7 persen secara tahunan.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan melambatnya pertumbuhan laba ini dipengaruhi beberapa hal, utamanya menurunnya pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang dibukukan perseroan.

Sepanjang kuartal I 2019, perseroan mencatat pendapatan bunga sebesar Rp14,38 triliun atau tumbuh 15,05 persen. Hanya saja beban bunganya tumbuh lebih kencang, yakni 28,31 persen menjadi sebesar Rp7,63 triliun.


Kondisi ini berbanding terbalik dibanding kuartal I 2018, di mana pertumbuhan bunga menurun 1,4 persen, tetapi pertumbuhan beban bunga lebih menurun tajam, yakni 10,2 persen.

Walhasil, pendapatan bunga bersih perusahaan sepanjang kuartal I 2019 hanya tercatat Rp14,82 triliun atau meningkat 6,7 persen dibanding tahun sebelumnya Rp13,88 triliun.

"Memang ini juga terjadi karena biaya dana (cost of fund) meningkat di kuartal I 2019," ujarnya, Senin (29/4).

Ia menuturkan kenaikan cost of fund terjadi karena likuiditas yang kian mengetat, sehingga perbankan berlomba-lomba memoles daya tarik dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK).


Demi menaikkan DPK, tentu suku bunga produk DPK juga harus dikerek, salah satunya adalah dengan menerbitkan produk deposito dengan tingkat bunga khusus (special rate) yang lebih mahal dari biasanya.

Hal ini juga tercermin di dalam komposisi penghimpunan DPK Bank Mandiri sepanjang kuartal I yang mencapai Rp827,8 triliun. Dari angka tersebut, deposito rupiah tercatat Rp260,7 triliun atau meningkat 5,8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara, deposito valas tercatat Rp56,7 triliun atau meningkat 96,1 persen dari tahun lalu Rp25,8 triliun. Padahal, di tahun lalu, pertumbuhan DPK di deposito rupiah dan valas masing-masing sebesar 3,3 persen dan minus 4,2 persen.

Di sisi lain, dana murah dalam bentuk tabungan rupiah tercatat Rp303,6 triliun atau tumbuh 6,2 persen. Pertumbuhan ini melambat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 10,4 persen.


"Likuiditas kemarin cukup ketat, sehingga untuk mendapatkan himpunan dana, maka harus ada DPK dengan special rate. Kami sebenarnya tak mau bersaing di dana mahal, tapi apa boleh buat tahun ini kami adakan. Karena ada tekanan di likuiditas, jadi persaingannya cukup ketat," imbuh Panji.

Meski demikian, perseroan masih bisa menjaga laba dengan menurunkan alokasi Cadangan Penurunan Kerugian Nilai (CKPN) dari Rp3,83 triliun di tahun lalu menjadi Rp2,57 triliun di tahun ini.
Hal ini sejalan dengan membaiknya rasio kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) Bank Mandiri dari 3,32 persen di kuartal I 2018 menjadi 2,68 persen di tahun ini.

"Dan memang secara pertumbuhan laba, Bank Mandiri lebih baik dibanding industri," jelas dia.

Pertumbuhan laba perseroan sepanjang kuartal I memang lebih besar dibanding bank-bank pelat merah lainnya. Di bawah Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk membukukan pertumbuhan tertinggi kedua, yakni 11,5 persen.

Disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 10,42 persen, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sebesar 5,67 persen.

[Gambas:Video CNN]


(glh/bir)