Rupiah Dua Pekan di Zona Merah, Dekati Rp14.300 Per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 03/05/2019 16:45 WIB
Rupiah Dua Pekan di Zona Merah, Dekati Rp14.300 Per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah  berada di posisi Rp14.266 dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (3/5) sore. Posisi tersebut melemah 0,1 persen dibandingkan penutupan Kamis (2/5) yakni Rp14.252 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.282 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.245 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.265 hingga Rp14.286 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang Asia melemah terhadap dolar AS hari ini. Won Korea Selatan melemah 0,35 persen, baht Thailand melemah 0,12 persen, ringgit Malaysia melemah 0,11 persen, dan dolar Singapura melemah 0,08 persen. Kemudian, peso Filipina melemah 0,07 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.


Sementara itu, hanya rupee India yang menguat seebsar 0,06 persen. Kemudian, yuan China dan yen Jepang tidak bergerak melawan dolar AS.


Di sisi lain, mata uang negara maju tercatat melemah, seperti poundsterling Inggris sebesar 0,12 persen, euro sebesar 0,09 persen, dan dolar Australia sebesar 0,03 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah disebabkan karena data ekonomi AS kembali berkilau sehingga investor kembali menggenggam dolar AS. Adapun, pemesanan barang dari pabrikan AS diumumkan tumbuh 1,9 persen secara builanan, atau di atas ekspektasi 1 persen.

Hal tersebut menciptakan persepsi bagi investor bahwa bank sentral AS The Fed tidak mungkin memangkas suku bunga acuan Fed Rate.


Kemudian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah juga mengancam defisit transaksi berjalan Indonesia. Utamanya, melalui nilai impor minyak.

Ibrahim mengatakan harga minyak dunia sejatinya menguat. Namun, karena Indonesia adalah negara importir minyak, maka penguatan dolar akan membebani nilai impor.

"Jika defisit transaksi berjalan bisa ditekan, maka rupiah sejatinya memiliki ruang untuk menguat. Jika berbicara mengenai rupiah, transaksi berjalan memang merupakan hal yang sangat penting lantaran menggambarkan pasokan devisa yang tidak mudah berubah," jelas Ibrahim, Jumat (3/5).
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Future Deddy Yusuf Siregar mengatakan pelaku pasar masih enggan memasuki mata uang Asia lantaran menunggu data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll/NFP) yang akan diumumkan malam nanti. Adapun, data tersebut diperkirakan akan menunjukkan perbaikan.

Sementara itu, dari sisi internal, rupiah mulai tertekan lantaran arus modal keluar seiring pembagian dividen Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia. Hal ini merupakan tren yang terjadi di akhir kuartal I dan awal kuartal II, di mana ini bisa mempengaruhi defisit transaksi berjalan nantinya.

"Jadi saya lihat, ini membuat pelaku pasar menjauh dulu dari emerging market. Namun kemungkinan rupiah menguat di pekan depan masih ada seiring rilis data PDB dalam negeri dan juga cadangan devisa," papar dia. (glh/agi)