Utang Italia Terancam 'Menggunung' Tahun Ini

CNN Indonesia | Rabu, 08/05/2019 12:50 WIB
Utang Italia Terancam 'Menggunung' Tahun Ini Ilustrasi salah satu sudut kota di Italia. (Pixabay/Lurunz).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Italia diperkirakan masih akan menumpuk utang lebih besar pada tahun ini. Utang 'menggunung' seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi anggota Uni Eropa tersebut.

Mengutip Reuters, Rabu (8/5), Komisi Uni Eropa kembali memangkas prospek ekonomi Italia menjadi hanya 0,1 persen pada tahun. Padahal, prospek sebelumnya pun sudah menunjukkan pertumbuhan yang suram, yakni 0,2 persen.

Komisi Uni Eropa mengungkapkan pertumbuhan Italia yang lamban akan membebani keuangan negara itu, dengan utang dan defisit yang diperkirakan melonjak dari batas yang diperkenankan aturan fiskal Uni Eropa.

Sekadar mengingatkan, tahun lalu, Italia mencatat pertumbuhan ekonomi 0,9 persen. Jauh di bawah perkiraan 1,2 persen. Realisasi itu menjadikan Italia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terendah di antara negara kawasan di Uni Eropa.


Meski demikian, Komisi Uni Eropa tidak memutuskan mengambil langkah disipliner jelang pemilihan pada 23-26 Mei nanti.

Hitung-hitungan Komisi Uni Eropa, tanpa perubahan kebijakan yang rentan terhadap euro, utang Italia akan melambung 133,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini dan mencapai puncaknya pada 2020 mendatang, yakni sebesar 135,2 persen dari PDB.

Utang Italia yang 'menggunung' terjadi sejak tahun lalu. Kondisi ini membuat Italia menjadi negara dengan rasio utang kedua tertinggi setelah Yunani yang sempat mendapat dana talangan.

Selain utang, Italia juga dihadapkan dengan defisit yang meningkat menjadi 2,5 persen pada tahun ini dan melesat menjadi 3,5 persen pada 2020 mendatang. Padahal, aturan fiskal Uni Eropa hanya memperkenankan defisit sebesar 3,0 persen.


Ancaman Tingkat Pengangguran

Selain ancaman utang dan defisit yang meningkat, Italia juga diperkirakan menghadapi pembengkakan pengeluaran kesejahteraan bagi warga negaranya. Hal ini dikarenakan penyusutan lapangan pekerjaan.

Jumlah tenaga kerja diperkirakan turun 0,1 persen tahun ini, diikuti dengan meningkatnya angka pengangguran menjadi 10,9 persen dan merangkak menjadi 11 persen pada 2020 nanti.

Salah satu alasan yang mengakibatkan peningkatan pengangguran lantaran kebijakan subsidi pemerintah yang dinilai cenderung mendorong lebih banyak orang untuk mendaftar menjadi pengangguran.


[Gambas:Video CNN] (bir)