Negosiasi Dagang AS-China Urung Rampung, Harga Minyak Melemah

CNN Indonesia | Rabu, 08/05/2019 07:26 WIB
Negosiasi Dagang AS-China Urung Rampung, Harga Minyak Melemah Ilustrasi kilang minyak. (www.pertamina-ep.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (7/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan disebabkan lambannya perkembangan negosiasi perdagangan antara AS -China sehingga memantik kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, pelemahan juga disebabkan oleh stok minyak mentah AS yang diperkirakan bakal melonjak.

Dilansir dari Reuters, Rabu (8/6), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$1,36 atau 1,9 persen menjadi US$69,88 per barel. Level harga Brent tersebut merupakan yang terendah sejak 4 April 2019.

Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) tergelincir US$0,85 sen atau 1,4 persen menjadi US$61,4 per barel, terendah sejak 29 Maret 2019.



"WTI telah babak belur selama beberapa pekan terakhir oleh besarnya kenaikan pasokan minyak mentah yang di luar dugaan," ujar Pimpinan Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Berdasarkan survei Reuters kepada sejumlah analis, stok minyak mentah AS telah menanjak ke level tertingginya sejak September 2017 dan diperkirakan akan bertambah 1,2 juta barel pekan lalu.

Survei tersebut dilakukan sebelum laporan stok mingguan yang dirilis Institut Perminyakan Amerika dan Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA).

Selanjutnya, berdasarkan Laporan Proyeksi Energi Jangka Pendek EIA, produksi minyak mentah AS diperkirakan bakal menanjak ke level 12,5 juta barel per hari (bph) pada 2019, yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa. Sebagai catatan, tahun lalu, rata-rata produksi minyak mentah AS ada di level 11 juta bph.


Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal mengerek tarif mulai dari 10 hingga 25 persen terhadap produk impor China senilai US$200 miliar. Komentar Trump tersebut menyeret pasar saham Asia dan AS.

"Aksi jual di pasar secara umum telah merembes ke pasar minyak hari ini (Selasa (7/5), hal ini mengindikasikan investor meyakini kemungkinan negosiasi perang dagang AS-China rampung pada Jumat ini berkurang," ujar Manajer Portfolio Tortoise Rob Thummel di Kansas.

Di sisi pasokan, pasar minyak tetap tegang karena pengetatan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran serta rencana untuk menempatkan pasukan bersenjata di kawasan pengekspor minyak terbesar di dunia itu.

Pada Minggu (5/5) lalu, pemerintah AS mengumumkan penempatan pasukan serangan udara dan pasukan khusus pengebom ke Timur Tengah bertujuan untuk melawan ancaman yang kredibel. Namun, Iran menilai pergerakan tersebut sebagai perang psikologis.


Pemberlakuan sanksi AS telah memangkas separuh ekspor minyak mentah Iran sepanjang tahun lalu menjadi kurang dari 1 juta bph. Pengetatan sanksi membuat pengiriman pada Mei 2019 diperkirakan bakal merosot ke level 500 ribu bph.

Menteri Energi AS Rick Perry menyatakan Arab Saudi tengah mengerek produksinya untuk menutupi berkurangnya pasokan dari Iran.

Bank Amerika Merrill Lynch memperkirakan Arab Saudi akan mengerek produksinya pelan pelan seiring keluarnya minyak Iran dari pasar. Merry Lynch memperkirakan harga terendah Brent akan ada di kisaran US$70 per barel dengan melihat kondisi pasar saat ini.

Kendati demikian, sejumlah analis memperkirakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, akan tetap mendongkrak harga.

"Merosotnya harga Brent baru-baru ini membuat harga terlalu rendah saat berhadapan dengan mengetatnya kondisi fundamental dan meningkatnya risiko pasokan, di saat bersamaan operator kilang juga kembali dari perpanjangan waktu yang diperlukan untuk musim semi," ujar Goldman Sachs.
[Gambas:Video CNN] (sfr/agi)