Lonjakan Stok AS Tekan Harga Minyak Pekan Lalu

CNN Indonesia | Senin, 06/05/2019 06:52 WIB
Lonjakan Stok AS Tekan Harga Minyak Pekan Lalu Ilustrasi harga minyak. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia melemah sepanjang pekan lalu. Pelemahan dipicu oleh lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Namun demikian, pelemahan tertahan oleh kuatnya data perekonomian AS yang mendongkrak sentimen terhadap permintaan serta berkurangnya pasokan akibat pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Dilansir dari Reuters, Senin (6/5), harga minyak mentah berjangka Brent melemah 2,6 persen secara mingguan menjadi US$70,85 per barel. Pelemahan ini merupakan yang pertama sejak 6 pekan terakhir.


Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga melemah sekitar 3 persen menjadi US$61,94 per barel. Dengan demikian, harga WTI telah melemah selama 2 pekan berturut-turut.

Berdasarkan data pemerintah AS, persediaan minyak mentah AS jelang pekan terakhir bulan lalu menanjak 9,9 juta barel menjadi 470,6 juta barel, tertinggi sejak September 2017. Peningkatan tersebut terjadi seiring level produksi yang menembus level 12,3 juta barel per hari (bph).


Seiring peningkatan produksi, Badan Administrasi Informasi Energi AS mencatat ekspor minyak mentah AS mencapai 3 juta bph untuk pertama kalinya pada November 2018 lalu dan terus menanjak hingga 3,6 juta bph pada awal tahun ini.

Perusahaan pelayanan sektor energi Baker Hughes juga mencatat perusahaan minyak AS menambah juga rig pengeboran minyak untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir. Jumlah rig merupakan salah satu indikator produksi di masa mendatang.

Sementara pada Jumat (3/5) lalu, data menunjukkan lapangan pekerjaan AS tumbuh pada April 2019. Angka pengangguran juga merosot menjadi 3,6 persen, lebih rendah dari angka pengangguran selama 49 tahun terakhir. Hal itu memicu ekspektasi permintaan minyak mentah akan tetap kuat.

"Jika lebih banyak orang yang akan bekerja, mereka akan mengemudi atau naik moda transportasi untuk berangkat ke tempat kerjanya," ujar Ahli Strategi Komoditas RJO Futures Phil Streible di Chicago pada pekan lalu.

[Gambas:Video CNN]

Oleh karena itu, Streible menilai data pekerjaan AS menjadi indikasi yang baik untuk memperkirakan terjadinya peningkatan permintaan bensin yang akan mendorong permintaan minyak mentah pada musim panas.

Streible juga mencermati reli di pasar ekuitas dan pelemahan dolar AS menyusul dirilisnya data ketenagakerjaan AS tersebut. Hal itu juga mampu menopang harga minyak berjangka. Sebagai catatan, harga minyak berjangka cenderung mengikuti pergerakan pasar modal.

Kemudian, permintaan komoditas yang dijual dengan dolar AS juga cenderung menanjak saat dolar AS melemah.

Pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela serta pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya juga membantu memperketat pasar dan menopang harga.


Selama beberapa hari, produksi minyak Rusia dipangkas sekitar 10 persen akibat ekspor minyak mentahnya ke Eropa terkontaminasi. Sumber dari industri kepada Reuters menyatakan kontaminasi terjadi di salah satu pipa utama ke Eropa dan di terminal pelabuhan pengiriman utama.

Produksi Arab Saudi juga berpotensi menanjak pada Juni 2019 mendatang. Peningkatan tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan minyak domestik demi kepentingan pembangkit listrik. Kendati demikian, sumber Reuters menyatakan produksi Arab Saudi akan tetap memenuhi kuota pemangkasan yang disepakati dalam kesepakatan OPEC.

Sumber dari industri memperkirakan produksi minyak mentah dari Arab Saudi akan mencapai 10 juta bph pada Mei 2019. Produksi negara pengekspor minyak terbesar dunia tersebut akan sedikit lebih tinggi dari angka produksi April 2019 namun masih di bawah kuota 10,3 juta bph yang disepakati dalam kesepakatan OPEC. (sfr/agi)