ANALISIS

Pahit-Manis Libur Panjang Lebaran bagi Ekonomi

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 15:46 WIB
Pahit-Manis Libur Panjang Lebaran bagi Ekonomi Ilustrasi tradisi mudik jelang libur lebaran. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengisyaratkan libur lebaran Pegawai Negeri Sipil (PNS) dimulai pada 30 Mei - 9 Juni 2019. Bila ditotal, jumlah hari libur abdi negara itu mencapai 11 hari, termasuk Sabtu dan Minggu. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding lebaran tahun lalu, yakni 10 hari.

Sementara itu, sektor swasta belum memastikan kapan meliburkan karyawan mereka jelang lebaran. Namun, sekadar gambaran, lebaran diperkirakan jatuh pada 5-6 Juni 2019. Jika mengacu tanggal tersebut, kemungkinan cuti akan berlangsung selama sepekan penuh mulai 1 - 9 Juni 2019.

Panjangnya libur dan cuti bersama perayaan lebaran tentu mempengaruhi kegiatan ekonomi di beberapa sektor. Sebut saja, industri manufaktur, ekspor dan impor, dan kegiatan logistik. Operasional kegiatan tersebut harus terhenti pada libur lebaran.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan libur yang terlalu lama memang berpotensi menurunkan produktivitas industri. Untuk jangka panjang, kondisi ini akan berdampak pada pelemahan daya saing industri.


"Biaya produksi membengkak karena perusahaan tetap menggaji penuh mereka (pekerja) yang mengambil cuti saat liburan. Bayarnya sebulan, kerjanya dipotong," ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/5).

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan sektor industri pengolahan baik minyak dan gas (migas) maupun non migas sebesar 2,06 persen pada kuartal II 2018 lalu (yang bertepatan dengan jatuhnya Lebaran 2018).

Angka ini memang lebih rendah dari pertumbuhan industri di kuartal III 2018 sebesar 2,58 persen. Namun, lebih tinggi dari pertumbuhan industri di kuartal I dan IV 2018 sebesar masing-masing 0,75 persen dan minus 1,16 persen.

Sepanjang tahun lalu, industri pengolahan tumbuh 4,27 persen atau melambat 2 persen dari pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 4,29 persen.


Meski bukan jadi satu-satunya faktor penentu kinerja industri, akan tetapi ia berujar pengaruh libur musiman kepada kinerja industri perlu menjadi perhatian pemerintah.

"Selain faktor seasonal (musiman), banyak faktor yang juga berpengaruh ke industri salah satunya kurs rupiah, harga minyak, perang dagang, dan sebagainya," jelasnya.

Namun demikian, perusahaan biasanya telah mengantisipasi libur panjang dengan menggenjot produksi sebelum momentum lebaran datang. Pun begitu, sebaiknya pengumuman cuti libur lebaran tetap dilakukan jauh-jauh hari atau H-2 bulan.

Dengan demikian, pengusaha memiliki persiapan matang, baik dari sisi produksi maupun finansial untuk menyambut libur panjang Lebaran. "Jadi, lama libur ini informasinya yang cukup penting bagi perencanaan bisnis," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

Ekonom Core Indonesia Piter Abdullah mengamini jika libur panjang lebaran membuat kinerja sektor-sektor yang harus menghentikan operasionalnya melambat dibandingkan hari biasa. Namun, kondisi tersebut telah diantisipasi oleh pengusaha sejak jauh-jauh hari.

"Jadwal ini sudah dirancang dari lama, dan kalau kita di bisnis sudah memperhitungkan jauh-jauh hari hal ini. Misalnya untuk ekspor pengapalan terakhir kapan sehingga ketika libur kapal tetap jalan," tutur dia.

Konsumsi Beri Kompensasi

Jika libur panjang lebaran menjadi tantangan bagi bagi sektor industri, tidak demikian halnya dengan industri lain. Bagi industri lainnya, periode ini justru menjadi berkah, misal yang berkaitan dengan konsumsi masyarakat. Lonjakan pertumbuhan konsumsi tersebut diyakini mampu mendorong laju ekonomi saat beberapa sektor melambat.

Piter mengatakan peningkatan konsumsi masyarakat ditopang oleh pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi PNS dan karyawan swasta. Bahkan, pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp20 triliun untuk alokasi THR PNS. Di samping itu, pemerintah juga menyiapkan anggaran sebesar Rp20 triliun untuk gaji ke 13 bagi PNS.


"Secara budaya mendorong konsumsi lebih tinggi. Ditambah lagi ada THR, apalagi pemerintah meningkatkan dana bantuan sosial, dan kenaikan gaji yang rapelannya dibayarkan juga," paparnya.

Banjir THR ini, tak ayal membuat konsumsi masyarakat melonjak. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal di mana terjadi lebaran selalu lebih tinggi. Maklum, konsumsi rumah tangga masih mendominasi kontribusi kepada pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 54 persen.

Tengok saja, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen. Capaian ini merupakan yang tertinggi dibandingkan kuartal lainnya, yaitu sebesar 5,06 persen pada kuartal I 2018, sebesar 5,17 persen pada kuartal III 2018, dan sebesar 5,18 persen pada kuartal IV 2018.


"Kenaikan ini (konsumsi) justru lebih besar dibandingkan sektor yang terganggu. Makanya, ketika periode bulan ramadan dan lebaran justru pertumbuhan ekonomi kita lebih baik, karena konsumsi naik," katanya.

Hal tersebut diamini oleh Bhima, jika konsumsi masyarakat pada periode lebaran akan menggenjot pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, masyarakat akan memanfaatkan uang THR untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.

"Namun, ekonomi tidak hanya bicara soal konsumsi. Sisi produksi juga harus diperhitungkan," tandasnya.


(bir)