Walau Harga Mahal, Maskapai 'Pede' Tiket Lebaran Laku

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 10:59 WIB
Walau Harga Mahal, Maskapai 'Pede' Tiket Lebaran Laku Ilustrasi penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah maskapai penerbangan tetap percaya diri penjualan tiket mudik Lebaran 2019 ini akan meningkat meski harganya kerap dikeluhkan mahal oleh masyarakat. Rata-rata perusahaan menargetkan penjualan tiket untuk mudik Lebaran nanti bisa naik sebesar 10 persen dibanding tahun lalu.

Lion Air Group misalnya, manajemen menargetkan penjualan pada musim puncak (peak season) Ramadan dan Lebaran tahun ini naik 10-15 persen dibandingkan bulan biasa. Atas target tersebut, perusahaan menambah 20.150 ketersediaan kursi (extra flight) selama masa angkutan Lebaran dan liburan 2019.

"Rata-rata musim liburan dan Lebaran tren travelling dengan permintaan menggunakan jasa penerbangan meningkat," ucap Corporate Communications Strategic Danang Mandala Prihantoro kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/5).


Ia merinci, Lion Air akan menambah 62 penerbangan dengan 11.718 kursi, Batik Air 35 penerbangan dengan 5.840 kursi, dan Wings Air 36 penerbangan dengan 2.592 kursi. Penerbangan tambahan ini akan mulai berlaku pada 29 Mei-20 Juli 2019.


"Periode tersebut dinilai sebagai musim puncak untuk arus mudik dan arus balik serta tren millennials traveling," tuturnya.

Beberapa rute penerbangan tambahan Lion Air Group, yakni Jakarta-Minangkabau, Jakarta-Pekanbaru, Jakarta-Solo, Yogyakarta-Banjarmasin, Surabaya-Balikpapan, Semarang-Balikpapan, Surabaya-Semarang, dan Surabaya-Kalimantan Tengah.

Namun, Danang menyebut bahwa pihaknya belum bisa memaparkan data penjualan sementara tiket mudik hingga posisi terakhir. Perusahaan masih perlu menganalisis lebih lanjut karena penjualan terus berlangsung.

Sementara, terkait isu harga tiket pesawat yang mahal saat ini, Danang memastikan bahwa Lion Air Group selalu menaati peraturan tarif batas atas (TBA) yang diberlakukan oleh pemerintah. "Harga jual dari Lion Air Group masih sesuai aturan atau berada di bawah koridor tarif batas atas," jelas dia.

[Gambas:Video CNN]

Tak mau kalah dengan Lion, AirAsia juga akan memanfaatkan momentum mudik tahun ini untuk menambah 17.280 kursi. Tambahan itu naik dari mudik 2018 lalu yang hanya 14.040 kursi.

Direktur Utama AirAsia Dendy Kurniawan menyatakan pihaknya optimistis mahalnya harga tiket beberapa waktu terakhir tak berpengaruh pada penjualan tiket mudik tahun ini. "Kami harap tidak turun," tegasnya.

Namun, ia tak menyebut pasti target kenaikan penjualan tiket pada mudik kali ini dibandingkan dengan tahun lalu. Manajemen masih melihat perkembangan pembelian tiket dalam dua pekan ke depan.

"Kami berharap tingkat keterisian akan meningkat dari tahun sebelumnya," ucap Dendy.


Ia memastikan pihaknya akan menjual tiket pesawat dengan harga yang terjangkau ke semua rute, baik domestik maupun internasional. Agar mendapatkan harga yang murah, Dendy mengimbau konsumen membeli tiket dari jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan.

"Karena biasanya harga akan semakin naik seiring dengan berkurangnya ketersediaan kursi," terangnya.

Ia menambahkan AirAsia menetapkan musim puncak mulai 30 Mei sampai 10 Juni 2019. Penambahan kursi dan penerbangan dilakukan untuk tujuan Surabaya, Yogyakarta, dan Bali.

Maskapai lainnya, Sriwijaya Air mengungkapkan perusahaan menargetkan penjualan tiket untuk mudik naik 10 persen tahun ini. Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Saul menyatakan pembelian tiket maskapainya sudah berlangsung sejak pekan lalu.

"Pembelian baru 50-60 persen," kata Joseph.

Di sisi lain, Garuda Indonesia justru menyatakan penjualan tiket ketika Ramadan biasanya turun 10 persen dibandingkan bulan-bulan biasanya. Sebab, penerbangan pada dua pekan pertama Ramadan terbilang sepi dibandingkan bulan-bulan biasanya.

Kendati begitu, perusahaan tetap menambah jumlah ketersediaan kursi sekitar 50 ribu kursi. Jumlahnya naik dari tahun lalu yang hanya menambah sekitar 45 ribu kursi.


"Kami tambah karena pemerintah memprediksi jumlah pemudik juga naik tahun ini," ungkap Pikri.

Sejauh ini, Pikri mengklaim penjualan tiket Garuda untuk mudik sudah lebih dari 70 persen dari total tiket yang disediakan. Rata-rata masyarakat membeli tiket tujuan Jawa, Padang, Bali, dan Ujung Pandang.

"Kalau Kalimantan daerah bisnis, jadi agak kurang," katanya.

Ia menyatakan perusahaan siap menambah jumlah kursi dan penerbangan jika permintaan tiket melebihi kapasitas yang disediakan. Ini artinya penambahan penerbangan bersifat fleksibel.

"Pokoknya kami siapkan sesuai kebutuhan pelanggan, kami hitung saja setiap hari," imbuh Pikri.


Manajemen Garuda Indonesia optimistis penjualan mudik tak akan berkurang dibandingkan dengan tahun lalu hanya karena isu harga tiket pesawat yang mahal. Pikri menyatakan konsumen Garuda Indonesia umumnya tak sensitif dengan harga.

"Yang beli tiket kami orangnya beda, segmennya beda. Kami kan full service, jadi tidak terpengaruh," ujar Pikri.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memperkirakan penumpang pesawat menurun sekitar 5 persen saat mudik Lebaran 2019. Hal ini disebabkan harga tiket pesawat yang naik beberapa waktu terakhir.

Budi mengaku sudah mengantisipasi penumpang pesawat yang akan beralih menggunakan transportasi darat atau mobil pribadi saat mudik Lebaran 2019. "Jadi turunnya paling 5 persen. Tapi itu sudah kami antisipasi," pungkas Budi.
(aud/agt)