ESDM Minta Pertamina Tambah Stok Elpiji Minimal 20 Hari

CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 14:59 WIB
ESDM Minta Pertamina Tambah Stok Elpiji Minimal 20 Hari Ilustrasi LPG. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta PT Pertamina (Persero) untuk meningkatkan ketahanan stok Liquified Petroleum Gas (LPG) selama periode Ramadan dan Lebaran 2019.

Berdasarkan data Kementerian ESDM per 10 Mei 2019, stok LPG Pertamina sebesar 369.058 metrik ton (MT) atau 17 hari. Namun, pemerintah menginginkan agar ketahanan pasokan LPG bisa dijaga untuk minimal 20 hari. Hal sesuai dengan arahan Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam rapat pimpinan yang digelar di kantornya Senin (13/5) hari ini.

"Saya akan bikin surat kepada Pertamina untuk meningkatkan stok dari 17 hari ke 20 hari," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Djoko Siswanto di kantor Kementerian ESDM, Senin (13/5).


Djoko mengungkapkan selama periode H-15 hingga H+15 Lebaran atau periode Satuan Tugas (Satgas) Posko Energi Idul Fitri 1440 H/2019, konsumsi harian LPG naik sekitar 10 hingga 15 persen dari porsi normal. Secara jumlah yaitu dari rata-rata 24.621 MT per hari menjadi 25.639 MT, dengan puncak konsumsi mencapai 27.659 MT per hari.


Menurut Djoko, untuk menaikkan ketahanan stok LPG, Pertamina tidak harus menambah impor LPG tetapi meningkatkan produksi LPG di dalam negeri.

"Kan cuma nambah (stok) 3 hari," ujarnya.

Pasokan BBM dan Listrik Aman

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Posko Energi Idul Fitri 1440 H/2019 mengungkapkan ketersedian pasokan dan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Gas (BBG), LPG, dan listrik secara umum aman.

"Kami masih yakin tidak akan ada kelangkaan. Tinggal nanti distribusinya di lapangan bagaimana," ujar Rida.


Berdasarkan data Pertamina, per 10 Mei 2019, seluruh ketahanan stok produk bensin, minyak Solar, minyak tanah, dan avtur berada di atas 20 hari.

Untuk produk bensin, ketahanan stok terendah dimiliki oleh Premium dan Pertalite yaitu untuk 21 hari. Sementara, stok tertinggi dimiliki oleh Pertamax Turbo yaitu 34.585 kiloliter (kl) atau 58 hari.

"Ketahanan stok minyak tanah Pertamina malah hampi 70 hari yaitu 69 hari dan avtur 48 hari," ujarnya.

Tak hanya Pertamina, stok BBM yang dimiliki oleh badan usaha lain juga di atas 20 hari. Bahkan, stok bensin oktan 90 yang dimiliki oleh PT Vivo Energy Indonesia mencapai 2.938 hari per 25 April 2019.


Untuk listrik, Kementerian ESDM memperkirakan akan ada penurunan konsumsi selama periode ramadan dan lebaran. Di mana, beban puncak nasional diperkirakan hanya 45,96 GigaWatt (GW) atau di bawah daya mampu nasional yang mencapai 49 GW.

"Pasokan listrik aman. Seperti tahun-tahun lalu, karena pada mudik, pabrik tutup, toko-toko tutup logikanya konsumsi turun sehingga pasokan cukup," ujarnya.

Kendati demikian, per 7 Mei 2019, masih ada sembilan daerah dalam status siaga yaitu Nias, Batam - Bintan, Bangka, Lombok, Interkoneksi Kalimantan Kendari, Ternate - Tidore, Ambon, dan Jayapura.

Lebih lanjut, selain memastikan ketersediaan energi, Posko Energi Idul Fitri 1440 H/2019 juga melakukan pemantauan untuk kepentingan antisipasi bencana kegeologian sebelum dan selama Lebaran.


Untuk kegempaan, Kementerian ESDM memantau 68 gunung berapi di seluruh Indonesia. Sebanyak 47 di antaranya dalam status normal. Kemudian, sebanyak 15 gunung berada dalam status waspada. Selanjutnya, 5 gunung dalam kondisi siaga yaitu Gunung Agung, Gunung Anak Krakatau, Gunung Ile Boleng (NTT), Gunung Soputan (Sulawesi Utara), dan Gunung Karang Etang (Sulawesi Utara).

"Satu gunung dalam kondisi awas yaitu Gunung Sinabung di Sumatera Utara," ujarnya.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar menambahkan, selain gunung api, Kementerian ESDM juga mengantisipasi bencana longsor. Untuk itu Kementerian ESDM melakukan pemantauan di jalur-jalur mudik seperti Manado - Tomohon, Nagrek-Gentong-Wangon, Padang - Sungai Penuh, Wonogiri - Pacitan - Trenggalek, dan Puncak - Padalarang.

"Kenapa masih terjadi karena ada perubahan musim hujan. Sampai sekarang Mei masih hujan sehingga kami mengantisipasi masih ada longsor pada bulan-bulan menjelang Hari Raya Idul Fitri ini," ujar Rudy.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)