EDUKASI KEUANGAN

Apik Kelola THR Agar Tak Gigit Jari Usai Perayaan Lebaran

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Sabtu, 18/05/2019 08:20 WIB
Apik Kelola THR Agar Tak Gigit Jari Usai Perayaan Lebaran Salah satu momen yang ditunggu jelang hari raya adalah THR. Namun, jika tidak hati-hati mengelola, THR juga bisa menjadi jebakan finansial usai lebaran. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tunjangan Hari Raya (THR) adalah hak yang diperoleh setiap pegawai menjelang lebaran. Bahkan hak tersebut sudah tercantum di dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

Menurut beleid tersebut, THR diberikan minimal satu kali gaji per bulan. Bahkan, karyawan dengan masa kerja di bawah satu tahun pun memperoleh THR, meski tidak mendapatkan tunjangan tersebut secara penuh.

Tentu saja, THR adalah salah satu momen yang ditunggu pekerja menjelang hari raya. Namun, THR juga bisa menjadi jebakan finansial jika tidak dikelola dengan baik.

Indri, contohnya. Wanita 27 tahun ini mengaku pernah mengalami pengalaman buruk dalam mengelola THR. Sekitar dua tahun lalu, ia ingin sekali membeli banyak barang seperti baju, sepatu, hingga mencicil ponsel anyar. Rencananya, barang-barang itu akan ia beli menggunakan dana THR.

[Gambas:Video CNN]

Namun, ketika THR tersebut cair, ia keburu kalap. Karena merasa memiliki uang, Indri akhirnya membeli barang-barang dengan harga yang jauh lebih tinggi dari kemampuan daya belinya. Ujung-ujungnya, dia harus menggesek kartu kredit untuk memenuhi keinginannya tersebut.

"Perasaan saya punya uang banyak, tapi lama kelamaan dipakai ini-itu, kok malah uang saya jadi defisit. Saya kapok deh, lain kali beli barang-barang yang harganya biasa saja deh karena ya akhirnya gesek (kartu kredit) lagi," jelas wanita yang berprofesi di bidang administrasi tersebut.

Lain halnya dengan Mario. Pria berusia 29 tahun ini juga pernah punya masalah dengan pengelolaan THR. Beberapa tahun lalu, THR-nya sempat ludes lantaran membeli hal-hal yang sejatinya tidak memenuhi kebutuhannya.

"Waktu itu beli macam-macam dari mulai game konsol sampai modifikasi mobil lah. Jadi sebenarnya hal-hal yang memang bukan kebutuhan. Nah, setelah itu saya sempat sakit dan perlu uang karena masuk rumah sakit, malah tidak punya uang. Tetapi itu dulu sih, masa-masa baru pertama kerja dan masih belum melek kewajiban finansial," katanya.


Memang, masyarakat sebaiknya tak langsung kalap ketika menerima THR. Layaknya penghasilan, THR harus diatur sedemikian rupa agar merayakan lebaran menjadi tenang. Jangan sampai, THR yang menjadi solusi dari beban finansial saat hari raya malah jadi bibit masalah baru.

Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan THR sebaiknya dialokasikan untuk menunaikan kewajiban terlebih dulu. Misalnya, alokasi uang bagi tiket pulang kampung atau alokasi untuk memberi uang kepada orang tua.

Bahkan, menurutnya, THR sangat disarankan untuk melunasi kewajiban seperti cicilan dan utang. Sehingga, masyarakat bisa kembali fitri dari beban finansial selepas hari raya.

Namun, Tejasari mengingatkan, ada beberapa kriteria utang yang bisa dibayar menggunakan THR. Misalnya, utang yang benar-benar bermasalah, seperti kartu kredit yang menumpuk atau utang sewa rumah/indekos yang tak kunjung dibayar. Jika memang pembayaran utangnya belum terlalu genting, hal itu bisa dibayarkan di lain kesempatan.


"Kalau utang kartu kredit yang jumlahnya kecil akan lebih baik dicicil terlebih dulu. Tapi kalau misalnya masyarakat sebelumnya mengambil cicilan nol persen untuk beli handphone kemudian masa cicilannya tinggal sekian bulan, jangan terburu-buru untuk melunasinya. Tentu harus disesuaikan juga dengan kebutuhan hari raya," jelas Tejasari.

Menurutnya, mengalokasikan THR secara teratur terbilang gampang-gampang susah. Kadang, masyarakat sudah kukuh pada pendirian, bahwa THR akan digunakan untuk bayar kewajiban. Namun, niat itu langsung buyar ketika THR sudah ada di tangan.

Untuk itu, Tejasari mengingatkan bahwa masyarakat perlu konsisten. Caranya, masyarakat bisa langsung membagi THR ke dalam dua rekening, yakni rekening untuk membayar kewajiban dan rekening untuk kebutuhan hari raya.

Jika langkah itu dirasa tak manjur, ia menyarankan masyarakat untuk langsung membayar kewajiban segera setelah THR cair. "Jadi daripada alokasi ke dua bagian, langsung saja pakai uangnya untuk bayar kewajiban. Soalnya jika THR dibagi-bagi, ada kemungkinan pengeluarannya tidak sesuai dengan rencana juga," ungkap dia.


Secara ilmu perencanaan keuangan, penghasilan tambahan, seperti THR memang sebaiknya digunakan untuk membayar kewajiban. Namun, jangan lupa bahwa THR juga ditujukan agar masyarakat bisa merayakan hari raya.

Sehingga, sisa uang THR itu ada baiknya langsung digunakan untuk pengeluaran hari raya. Namun, jika sisa THR terasa kurang, jangan memaksa untuk berutang demi merayakan hari raya. Berutang baru bisa dilakukan jika memang kebutuhannya sudah mendesak.

Menurut Tejasari, lebih baik lebaran dengan kondisi seadanya ketimbang terbebani di kemudian hari.

"Kalau memang mau merayakan hari raya dengan agak berlebihan, lebih baik menabung di jauh-jauh hari. Kalau pun terpaksa berutang, pastikan jumlahnya tidak boleh lebih dari 30 persen dari gaji," imbuh dia.


Sementara itu, Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan masyarakat harus ekstra hati-hati dengan THR di tahun ini. Sebab, ada kemungkinan THR akan cair bersamaan dengan gaji bulan Mei.

Sehingga itu akan memberikan efek psikologis, bahwa masyarakat tengah mendapat durian runtuh. Jika tidak hati-hati, tak hanya uang THR, gaji bulan ini pun tak mampu bertahan hingga bulan depan.

Makanya, Andi menyarankan masyarakat untuk mengamankan kebutuhan pasca lebaran tepat setelah THR dan gaji cair bersamaan. Misalnya, tagihan listrik, sewa hunian, uang sekolah anak, dan segala macam cicilan disisihkan ke pos rekening sendiri.

Tak ketinggalan, masyarakat juga harus menyisihkan uang demi kebutuhan hidup minimal 20 hari ke depan, sebelum gaji berikutnya datang kembali.


"Kemudian setelah itu, paling tidak 10 persen dari gaji plus THR disisihkan untuk ditabung dan investasi, biar tidak terlewat. Selebihnya, silakan gunakan THR untuk bersenang-senang karena tujuan THR kan memang untuk pengeluaran hari raya," katanya.

Kemudian, Andi juga mengingatkan masyarakat pantang menggunakan THR untuk hal-hal yang belum menjadi kebutuhan. Misalnya, membeli sepatu baru padahal sepatu yang lama masih bagus. Contoh lainnya adalah membeli gawai baru padahal yang lama masih berfungsi dengan baik.

Jika masyarakat kekeh ingin membeli barang-barang tersebut, tentu konsekuensinya harus dipikirkan secara matang-matang. Membeli barang-barang baru di saat lebaran tentu juga harus diimbangi dengan mengurangi konsumsi setelah lebaran agar kantong tetap aman.

Selain itu, untuk menahan konsumsi, masyarakat juga harus tegas terhadap dirinya sendiri. Kadang, konsumsi berlebihan muncul karena orang sering memberi pengertian kepada dirinya sendiri. Padahal, itu adalah jebakan finansial.

THR memang tidak haram untuk langsung dihabiskan di hari raya. Tapi, pengeluarannya pun harus sesuai dengan skala prioritas. Untuk itu, masyarakat perlu mendaftar hal-hal yang sekiranya mendesak dan perlu dibayar menggunakan THR.

"Kadang ketika membeli barang, kita suka memberi excuse (alasan) pada diri sendiri. Misalnya, beli jam tangan mumpung lagi diskon dan berpikir bahwa jam yang kita miliki itu sudah ketinggalan zaman. Padahal, jam tangan kita masih bagus. Nah, hal-hal seperti itu yang kemudian menjadi jebakan," tandasnya.


(bir)