Hadapi Ekonomi Global, KEIN Sebut RI Perlu Dorong Wirausaha

CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 23:07 WIB
Hadapi Ekonomi Global, KEIN Sebut RI Perlu Dorong Wirausaha Komite Ekonomi dan Industri Nasional menilai Indonesia perlu mempersiapkan ekonomi yang berbasis kewirausahaan guna menghadapi tantangan ekonomi global. (Dok. KEIN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menilai Indonesia perlu mempersiapkan ekonomi yang berbasis kewirausahaan guna menghadapi tantangan ekonomi global ke depannya. Terlebih, kondisi global tengah dirundung ketidakpastian yang mempengaruhi laju ekonomi nasional.

Ketua KEIN Soetrisno Bachir mengatakan jiwa kewirausahaan hendaknya ditanamkan pada generasi muda. Lewat kewirausahaan, mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sehingga mendorong kegiatan ekonomi.

Hal tersebut disampaikannya dalam Diskusi Rekonstruksi dan Revitalisasi Ekonomi Pancasila dalam Mewujudkan Keadilan Sosial di Universitas Ahmad Dahlan, Tangerang Selatan.


"Sehingga kita memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) nanti 10-15 tahun ke depan sudah siap untuk bersaing di tingkat global," tuturnya, Senin (13/5).


Menurut dia, pengembangan ekonomi berbasis kewirausahaan ini harus dibarengi dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Pasalnya, kualitas SDM merupakan kunci utama agar peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global.

Selain mendorong kewirausahaan dan pengembangan SDM, lanjutnya, Indonesia perlu menggenjot ekspor. Tak hanya dari sisi kuantitas, pemerintah perlu mendorong nilai tambah pada komoditas ekspor.

Dalam hal ini, diperlukan upaya bersama antara pemerintah, sektor swasta, serta masyarakat sendiri. Sebab, komoditas ekspor Indonesia yang selama ini diekspor dalam bentuk mentah berpotensi untuk diolah menjadi produk hilir yang memiliki nilai tambah. Lewat upaya tersebut, ia meyakini laju ekonomi Indonesia bisa lebih kencang, bahkan Indonesai bisa terbebas dari defisit neraca perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan dalam negeri sepanjang Maret 2019 mengalami surplus sebesar US$540 juta. Namun, secara kumulasi, Indonesia masih defisit perdagangan sebesar US$190 juta sepanjang kuartal I 2019.


"Jadi kita harus menuju Indonesia incorporated, seperti yang dilakukan oleh Vietnam, Thailand, maupun Malaysia. Mereka itu bersatu," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mengatakan Indonesia bakal mengalami periode bonus demografi yang diprediksi puncaknya akan terjadi hingga 2045. Dalam kurun waktu itu, jumlah penduduk produktif usia 15-64 tahun diperkirakan melampaui penduduk usia non produktif.

Dengan masifnya penduduk usia produktif, sewajarnya laju ekonomi suatu negara bisa melesat, termasuk Indonesia. Sebaliknya, kondisi ini justru bisa menjadi petaka jika Indonesia tidak mampu mengantisipasi laju penduduk usia produktif tersebut.

"Kalau kita tidak memanfaatkan momentum itu maka yang terjadi akan menjadi beban dan bencana bagi Indoneisa," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Salah satu kunci dalam menghadapi bonus demografi itu, lanjutnya, dengan mempersiapakn SDM yang mampuni sebagaimana yang disebutkan oleh Soetrisno di atas. Lewat kualitas SDM yang berdaya saing global, utama generasi muda, maka Indonesia mampu menggenjot lanju pertumbuhan ekonominya.

"Jadi ekonomi Pancasila yang harus dibangun bukan ekonomi Pancasila masa lalu yang normatif, tetapi adaptif dengan perubahan dunia yang luar bisa," tuturnya.

Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,17 persen. Tahun ini, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar 5,3 persen. Pada kuartal I 2019, ekonomi Indonesia hanya mampu bertumbuh 5,07 persen. (ulf/lav)