Masyarakat Kadung Pesimis Harga Tiket Pesawat Bakal Turun

CNN Indonesia | Rabu, 15/05/2019 07:57 WIB
Masyarakat Kadung Pesimis Harga Tiket Pesawat Bakal Turun Ilustrasi antrean tiket pesawat. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Deri Angga (35 tahun) mengaku sudah pasrah tak bisa merealisasikan keinginan untuk mudik ke kampung halaman pada libur lebaran tahun ini. Padahal, alokasi libur cuti bersama sudah dikantongi jauh-jauh hari.

Semua bermula dari harga tiket pesawat yang tinggi untuk rute kota tempatnya bekerja di Jakarta menuju kampung halaman di Surabaya, Jawa Timur.

Sejak dipantau melalui aplikasi penjualan tiket online Maret lalu, harga tiket pesawat Jakarta-Surabaya sekitar Rp1,2 juta sekali jalan untuk penerbangan sekitar akhir Mei.


Padahal, ia ingat betul harga tiket pesawat Jakarta-Surabaya hanya sekitar Rp700-800 ribu sekali jalan jelang Lebaran tahun lalu.

"Sekarang sudah naik hampir 50 persen dari tahun lalu, padahal dulu saya beli saat mau Lebaran juga," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/5).


Harga tiket pesawat yang tinggi membuatnya dilema. Di satu sisi, ia ingin pulang menemui kedua orang tua di Surabaya, namun di satu sisi ia mengaku tak sampai hati mengeluarkan dana yang sangat besar tersebut.

Maklum saja, bagi Deri, mudik sejatinya bukan hanya membutuhkan tiket pesawat, tapi juga kesiapan dana lain untuk memberi 'angpao' Lebaran bagi sanak saudara hingga beli oleh-oleh untuk dibagikan ke rekan kerja sepulang mudik.

Walhasil, ia pun akhirnya memilih untuk menunda pembelian tiket. Ia mengatakan hal ini lantaran masih sempat berharap pemerintah bisa mengeluarkan intervensi agar harga tiket pesawat bisa turun. Menurutnya, harapan itu sempat ada lantaran mengikuti pemberitaan di media massa.

"Kalau baca media online, nonton berita di televisi, itu kan dari kemarin pemerintah masih berupaya menurunkan harga tiket, makanya saya pikir apa tunggu dulu ya, nanti belinya," ujarnya.


'Janji surga' penurunan harga tiket pesawat pun baru diberikan pemerintah pada Senin (13/5) kemarin. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengumumkan tarif batas atas tiket pesawat bagi penerbangan domestik dengan kelas layanan penuh (full service) turun sekitar 12-16 persen dengan rata-rata sebesar 15 persen.

Selain itu, pemerintah juga menghimbau agar maskapai dengan layanan rendah (Low Cost Carrier/LCC) memasang harga tiket pesawat sekitar 50 persen dari tarif batas atas. Kedua putusan itu diharapkan bisa dilaksanakan masing-masing maskapai mulai Rabu (15/5) besok.

Sayangnya, penurunan tarif batas atas itu hanya berlaku bagi maskapai full service, seperti Garuda Indonesia dan Batik Air. Padahal, harga tiket yang ditawarkan kedua maskapai kerap tak sesuai dengan kantong. Ia mengaku lebih pas dengan harga yang biasanya ditawarkan maskapai LCC. Namun, penurunan harga tiket di kedua maskapai hanya bersifat imbauan saja.

"Entah kenapa saya rasa kalau cuma himbauan ya tetap sulit turun, toh kemarin-kemarin sudah dihimbau juga tidak turun juga, malah semakin mahal. Padahal, orang-orang lebih berharap harga tiket pesawat LCC yang turun," ujarnya.


Walhasil, ia pun lebih memilih pasrah untuk tidak pulang ke kampung halaman pada Lebaran tahun ini. "Ya semoga video call sudah cukup menyambung silaturahmi," ujarnya tersenyum.

Sementara moda transportasi lain sebenarnya bisa diandalkan. Hanya saja, menurutnya, ia sudah kehabisan tiket kereta api ke Surabaya. Senada dengan Deri, Ronna Nirmala (31) juga mengaku sempat 'galau' untuk membeli tiket pesawat dalam rangka mudik ke kampung halaman suami di Sleman, Yogyakarta.

Ibu satu anak itu mengatakan sudah mengecek harga tiket sejak jauh-jauh hari. Begitu juga dengan tiket kereta api ke Kota Pelajar itu. Sayang, tidak ada tiket yang tersisa untuk keluarga kecilnya.

Sementara harga tiket pesawat tak kunjung turun. Berdasarkan pemantauannya, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta dibanderol sekitar Rp800 ribu sampai Rp1,2 juta sekali jalan di aplikasi penjualan tiket online.


"Taruhlah harganya Rp1 juta per orang sekali jalan, saya butuh tiga tiket, lalu pulang juga tiga tiket, jadi pulang pergi enam tiket seharga segitu. Berarti perlu Rp6 juta untuk biaya transportasi mudik," terangnya.

Namun, biaya tersebut bisa saja belum termasuk biaya bagasi yang harus dibayarkan bila membawa barang berlebih. Untuk biaya bagasi, ia setidaknya perlu menambah sekitar Rp85-300 ribu.

"Sebenarnya kalau beli seperti AirAsia, Lion Air, itu kan tidak ada bagasi. Lebih murah, tapi harus tambah bagasi, itu harganya jadi beda tipis dengan Garuda Indonesia," katanya.

Dari hitung-hitungan ini, ia pun mengaku masih berharap pemerintah bisa memberikan 'angin segar' bagi masyarakat agar bisa mendapatkan tiket pesawat yang lebih terjangkau. Meski, ia mengaku masih cukup pesimis bila harga tiket bisa turun. Ia memperkirakan sekalipun turun, harga tiket hanya turun Rp100-200 ribu per sekali jalan.


"Tapi ya setidaknya Rp700 ribu masih masuk akal lah, atau mentok Rp900 ribu," tuturnya.

Kendati begitu, Mala mengatakan mau tidak mau akan tetap membeli tiket pesawat untuk mudik Lebaran tahun ini. Meski harus sedikit memutar otak dengan mencari promo-promo yang bisa digunakan. Salah satunya, dengan menggunakan poin anggota aplikasi penjualan tiket online yang tak sengaja dikumpulkannya selama ini.

Di sisi lain, ia mengaku tak bisa menggunakan moda transportasi lantaran sudah kehabisan tiket kereta dan khawatir mudik dengan kendaraan pribadi justru akan membuatnya terjebak macet. Meski, pemerintah juga sudah membangun rangkaian tol baru di sepanjang Jawa, yaitu Tol Trans Jawa.

(uli/lav)