"Yang harus kami waspadai adalah sinyal-sinyal bahwa situasi ini tidak akan reda dalam jangka pendek karena pola konfrontasinya itu sangat head to head," ujar Sri Mulyani di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rabu (15/5).
Secara diplomatis, kedua negara sudah berusaha meredakan ketegangan melalui upaya negosiasi. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Bahkan, upaya untuk mencapai kata sepakat bisa jadi akan lebih sulit ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, China mengumumkan tarif pembalasan atas impor barang-barang AS senilai US$ 60 miliar, di antaranya gas alam cair dan minyak mentah AS.
Sementara di AS, dampak perang tarif bisa memicu inflasi yang dapat mendorong tingkat suku bunga dan menyeret daya beli masyarakatnya. Akibatnya, pertumbuhan ekonominya terancam melandai.
"Jadi, situasi ini memang sangat menekan untuk kondisi di masing-masing negara," ujarnya.
Lihat juga:Dagang dengan China, RI Tekor US$7,1 Miliar |
Melihat hal itu, pemerintah menyadari ekspor akan sulit untuk bisa menggerakkan perekonomian domestik. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan menurunkan permintaan dunia terhadap produk ekspor Indonesia. Kondisi ini bisa mengancam target pemerintah untuk mendorong perkembangan sektor industri.
Untuk itu, pemerintah harus memiliki siasat dalam menghadapi perkembangan yang ada dengan memperkuat sektor domestik dan meningkatkan investasi.
"Kita (Indonesia) harus terus melihat aspek domestik kita dan (ketegangan AS-China) ini harus terus menjadi kewaspadaaan bagi kita," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr/agi)