Dana Asing di SBN Disebut Tak Lagi Bersifat 'Hot Money'

CNN Indonesia | Kamis, 16/05/2019 06:05 WIB
Dana Asing di SBN Disebut Tak Lagi Bersifat 'Hot Money' Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Aliran dana asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) di Indonesia dianggap sudah cukup stabil. Investor asing dianggap telah mengurangi aktivitas 'hot money' melalui SBN, dan mulai berinvestasi di obligasi negara dengan tenor jangka panjang.

Istilah hot money didefinisikan sebagai aliran dana asing yang masuk ke dalam negeri untuk mencari cuan dalam jangka pendek.

Kepala Riset Fixed Income PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Handy Yunianto menilai kondisi pasar obligasi di Indonesia saat ini masih cukup menarik. Terlebih, imbal hasil (yield) SBN masih lebih baik ketimbang obligasi pemerintah di luar negeri.


Handy mengatakan yield SBN sudah meningkat 3,28 persen sejak akhir tahun, di mana tren ini berbanding terbalik dengan negara maju. Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, misalnya, kian melandai karena data ekonominya masih belum baik sehingga bank sentral AS The Fed tidak berencana menaikkan suku bunga acuannya.


Kondisi ini ternyata justru menjadi daya tarik bagi investor asing untuk datang ke Indonesia. Terlebih, Indonesia juga punya salah satu surat utang dengan peringkat (rating) paling baik di antara negara-negara berkembang

"Ketika yield US treasury bonds ini tidak sekuat dulu, dan return yang positif di obligasi, maka kini investor bersikap memegang SBN secara jangka panjang, bukan lagi bersifat hot money," jelas Handy, Rabu (15/5).

Ia kemudian menunjukkan data secara tahun kalender per 13 Mei 2019 yang menunjukkan bahwa aliran asing masuk ke SBN secara netto mencapai Rp66 triliun.

Memang terdapat catatan negatif di arus modal SBN senilai Rp7,9 triliun antara awal April hingga 13 Mei, namun itu tak sepenuhnya dapat diartikan sebagai aliran modal keluar. Handy bilang, sebagian catatan negatif itu juga berasal dari SBN yang sudah jatuh tempo.


Ia menganggap arus modal negatif sebesar Rp7,9 triliun ini masih cukup moderat, mengingat banyak sentimen tidak baik sepanjang April hingga Mei. Beberapa di antaranya ialah perang dagang yang memanas antara AS dan China hingga rilisan data ekonomi domestik yang tak sesuai target seperti cadangan devisa, defisit transaksi berjalan, dan defisit neraca perdagangan.

"Dari angka negatif ini, sebenarnya asing masih memandang positif Indonesia. Apalagi, yield yang masih paling baik ya Indonesia dibanding di luar sana," jelas dia.

Meski demikian, potensi investor asing untuk meninggalkan SBN masih terbuka lebar jika nilai tukar rupiah kian terpelanting. Jika depresiasi rupiah lebih tinggi dari yield yang diperoleh, sudah tentu investor akan mendera kerugian.

Maka itu, stabilitas nilai tukar sangat diperlukan. Jika nilai tukar mencapai Rp15.100, itu adalah lampu merah bahwa investor akan lari dari Indonesia.


Dengan demikian, pemerintah perlu memperbaiki profil risiko kredit SBN agar lembaga pemeringkat bersedia meningkatkan rating SBN Indonesia. Yakni, dengan cara memperbaiki kondisi makroekonomi. Sebab, outflow akan terjadi jika lembaga pemeringkat menurunkan rating kredit SBN.

Kemudian, pemerintah tidak boleh lupa untuk memperdalam pasar keuangan domestik agar porsi kepemilikan asing pada SBN bisa berkurang. "Alangkah lebih baik jika ada insentif pajak bagi investor dalam negeri agar mau masuk ke dalam pasar SBN, pungkas dia.

Menurut data Kementerian Keuangan per 29 April 2019, total kepemilikan asing di SBN yang bisa diperdagangkan sebesar Rp962,57 triliun. Angka ini tercatat 38,44 persen dari total SBN yang bisa diperdagangkan.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)