BEI Akui Kondisi Politik Timbulkan Kekhawatiran Pasar Saham

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 14:12 WIB
BEI Akui Kondisi Politik Timbulkan Kekhawatiran Pasar Saham Ilustrasi indeks saham. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut situasi politik tanah air saat ini menimbulkan kekhawatiran di pasar modal. Tak pelak, ini menjadi salah satu pemicu laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot.

"Situasi politik meskipun tidak parah-parah sekali, tetapi tetap menimbulkan semacam kekhawatiran," ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono Widodo di Gedung BEI, Senin (20/5).

Ia menuturkan seluruh lapisan masyarakat tengah menunggu pengumuman resmi hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) dan hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang akan diumumkan pada Rabu (22/5) mendatang. Tak terkecuali, investor pasar modal.


"Jadi kalau tanggal 22 Mei berjalan dengan lancar, semua pihak dapat mengendalikan diri, saya rasa itu sudah menjadi nilai tambah buat kami (pasar modal)," katanya.


Oleh sebab itu, ia berharap pengumuman hasil pesta demokrasi yang berlangsung pada 17 April 2019 itu bisa berjalan secara kondusif. Ia meyakini ketika pengumuman hasil Pilpres dan Pileg 2019 berjalan aman, maka akan menjadi snetimen positif bagi ekonomi Indonesia, termasuk di pasar modal.

Dalam sepekan, data BEI mencatat IHSG turun sebesar 6,16 persen ke level 5.826,87 dari 6.209,12 pada penutupan pekan lalu. Sejalan dengan itu, RTI Infokom menyebut investor asing mencatatkan beli bersih (net sell) sebesar Rp3,16 triliun dalam sepekan.

Ia menuturkan selain sentimen politik, tekanan di pasar modal dipicu kinerja emiten tercatat sepanjang kuartal I 2019 yang lebih rendah dari perkiraan analisis.


"Jadi analis ini banyak yang melakukan down grade. Tentunya ini butuh waktu untuk tercermin di harga," katanya.

Di samping itu, indeks terpengaruh data makro ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, salah satunya defisit neraca perdagangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada bulan April defisit US$2,5 miliar. Kinerja ini anjlok dibanding neraca perdagangan Maret yang mencatat surplus US$540,2 juta. Sedangkan dari sisi global, ia bilang perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China terus membayangi ekonomi global, termasuk ekonomi Indonesia.

"Kalau AS masih batuk-batuk seluruh dunia kena, termasuk Indonesia. Jadi penyebabnya itu," jelasnya.

[Gambas:Video CNN] (ulf/lav)