IHSG Anjlok, BEI Sebut Tak Perlu Protokol Krisis Pasar Modal

CNN Indonesia | Senin, 20/05/2019 11:27 WIB
IHSG Anjlok, BEI Sebut Tak Perlu Protokol Krisis Pasar Modal Ilustrasi indeks harga saham gabungan (IHSG). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bisa ditoleransi, sehingga dinilai belum perlu menerapkan protokol krisis atas kondisi pasar modal saat ini.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono Widodo mengimbau agar investor tak perlu panik dengan kondisi pasar modal saat ini.

"Tentunya kami worry (khawatir), tetapi apakah ini menjadi kejadian yang luar biasa, saya rasa tidak. Jadi, menurut saya bisnis as usual no reason to get panic (tidak ada alasan untuk panik)," katanya di Gedung BEI, Senin (20/5).


Ia menuturkan protokol krisis akan diberlakukan jika terjadi penurunan tajam indeks dalam satu hari lebih dari 2 persen. Lalu, apabila indeks tertekan sebesar 5 persen, maka bursa akan mengadakan pertemuan dengan otoritas pasar modal lainnya.


Lebih lanjut, jika terjadi penurunan hingga 10 persen, maka bursa akan memberlakukan auto hold (diberhentikan sementara).

"Hari Sabtu kemarin sudah mulai dicoba, tes di antara anggota bursa dan BEI dan berjalan dengan baik. Jadi kami juga mempersiapkan itu (protokol krisis)," jelasnya.

Tak hanya indeks yang tengah melemah, aliran modal asing keluar (capital outflow) juga terus terjadi di pasar modal. Namun demikian, ia menilai capital outflow tersebut masih bisa ditoleransi.

"Kami mewaspadai, tapi apakah ini menjadi kejadian luar biasa yang membuat kami melakukan tindakan luar biasa, saya rasa belum," ujarnya.


Menurut dia, tekanan di pasar modal dipicu oleh berbagai faktor baik dari domestik maupun global. Dari domestik, ia menuturkan jika kinerja emiten tercatat sepnajang kuartal I 2019 lebih rendah dari perkiraan analisis.

"Jadi analis ini banyak yang melakukan down grade. Tentunya ini butuh waktu untuk tercermin di harga," katanya.

Di samping itu, indeks terpengaruh data makro ekonomi yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, salah satunya defisit neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada bulan April defisit US$2,5 miliar. Kinerja ini anjlok dibanding neraca perdagangan Maret yang mencatat surplus US$540,2 juta.


Tak kalah pentingnya, kondisi pasar modal juga mengalami imbas situasi politik usai Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Terlebih dalam waktu dekat, yakni Rabu (22/5) Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil perhitungan resmi Pemilu 2019.

"Meskipun tidak parah-parah sekali, tetapi tetap menimbulkan semacam kekhawatiran," katanya.

Sedangkan dari sisi global, ia bilang perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China terus membayangi ekonomi global, termasuk ekonomi Indonesia.

"Kalau AS masih batuk-batuk seluruh dunia kena, termasuk Indonesia. Jadi penyebabnya itu," jelasnya.


Dalam satu pekan, data BEI mencatat IHSG turun sebesar 6,16 persen ke level 5.826,87 dari 6.209,12 pada penutupan pekan lalu. Sementara itu, RTI Infokom menyebut investor asing mencatatkan beli bersih (net sell) sebesar Rp3,16 triliun dalam sepekan. (ulf/lav)