Harga Minyak Terdongkrak Sinyal Pemangkasan Produksi OPEC

CNN Indonesia | Selasa, 21/05/2019 07:31 WIB
Harga Minyak Terdongkrak Sinyal Pemangkasan Produksi OPEC Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menyentuh level tertinggi dibanding beberapa pekan terakhir pada perdagangan Senin (20/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh sinyal dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi. Selain itu, dorongan juga berasal dari eskalasi tensi di Timur Tengah.

Dilansir dari Reuters, Selasa (21/5), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,34 menjadi US$63,1 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, WTI sempat menyentuh level US$63,81 per barel, tertinggi sejak 1 Mei 2019.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent melemah sebesar US$0,24 menjadi US$71,97 per barel, setelah menyentuh level US$73,4 per barel, tertinggi sejak 26 April 2019.


Pada Minggu (19/5), Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengungkapkan ada konsensus di antara negara anggota OPEC dan sekutunya untuk menggerus persediaan minyak secara halus. Namun, negara-negara tersebut akan tetap responsif terhadap kebutuhan pasar yang disebutnya rapuh.


Komentar tersebut memberikan dorongan terhadap harga minyak dunia di awal sesi perdagangan Senin (20/5). Kendati demikian, selama sesi perdagangan berlangsung, harga minyak kembali melandai.

"Tidak ada hal sustansial yang terjadi lebih jauh, sehingga kenaikan harga bocor keluar pasar," ujar Wakil Kepala Riseg Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Connecticut. Menurut McGillian, pasar tidak ingin bergerak terlalu jauh.

OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, atau OPEC+ sepakat memangkas produksinya sebesar 1,2 juga barel per hari (bph) sejak 1 Januari 2019 selama 6 bulan. Kebijakan itu dilakukan untuk mencegah meningkatnya persediaan dan melemahnya harga.

Pertemuan Komite Pengawasan Bersama Tingkat Menteri (JMMC) yang berlangsung di Arab Saudi pada akhir pekan lalu tidak memberikan rekomendasi yang solid.


OPEC dan sekutunya dijadwalkan akan kembali bertemu di Wina, Austria, pada 25 -26 Juni 2019 mendatang untuk membahas kebijakan perminyakan berikutnya. Namun, dua sumber OPEC menyatakan kelompok kartel itu tengah mempertimbangkan untuk menggeser waktu pertemuan menjadi 3-4 Juli 2019. Perubahan tanggal pertemuan belum dikonfirmasi secara resmi.

Menteri Energi Arab Saudi Suhail al-Mazrouei mengatakan produsen mampu memenuhi berapapun selisih kebutuhan pasar dan merelaksasi kebijakan pemangkasan pasokan bukan keputusan yang tepat.

Berdasarkan data OPEC, persediaan minyak di negara maju naik 3,3 juta barel secara bulanan pada Maret 2019 lalu. Realisasi tersebut 22,8 juta barel di atas rata-rata lima tahunan.

Selanjutnya, sentimen penguatan harga juga berasal dari memanasnya tensi di Timur Tengah.


Pada Minggu (19/5) lalu, Presiden AS Donald Trump mengancam Iran. Melalui akun Twitter resminya, Trump mengatakan konflik di Iran akan segera berakhir. Arab Saudi juga siap untuk merespons serangan Iran dengan segala kekuatannya. Dengan demikian, keputusan untuk mencegah terjadinya perang berada di tangan Iran.

Retorika tersebut dilontarkan setelah serangan terhadap aset fasilitas minyak Arab Saudi pekan lalu dan penembakan roket ke zona hijau di Baghdad yang meledak di dekat Kedutaan Besar AS.

Pada Senin (20/5) kemarin, Inggris mengatakan kepada Iran untuk tidak meremehkan upaya AS. Inggris mengingatkan jika kepentingan AS diserang pemerintahan Trump akan melakukan aksi balasan perdagangan (retaliasi).

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)