Minyak Tertekan Sentimen Peningkatan Ketegangan Perang Dagang

CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 07:16 WIB
Minyak Tertekan Sentimen Peningkatan Ketegangan Perang Dagang Ilustrasi harga minyak. (REUTERS/Edgar Su)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot tipis pada perdagangan sepanjang pekan lalu. Pelemahan utamanya dipicu oleh peningkatan ketegangan dagang akibat AS yang mengerek tarif impor produk China.

Peningkatan ketegangan perdagangan menimbulkan kekhawatiran terhadap perlambatan laju ekonomi yang dapat menyeret permintaan minyak global. Dilansir dari Reuters, Senin (13/5), harga minyak mentah berjangka Brent pada perdagangan Jumat (10/5) lalu ditutup di level US$70,62 per barel atau merosot 0,3 persen.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) yang secara mingguan turun 0,5 persen menjadi US$61,66 per barel.


Pekan lalu, perdagangan minyak cukup bergejolak. Meski pemerintah AS - China terus berupaya untuk mencapai kata sepakat, investor khawatir terhadap kemungkinan memburuknya perang dagang kedua negara karena penyelesaian yang berlarut-larut.


Pada Jumat (10/5) lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan ia tak terburu-buru untuk meneken kesepakatan perdagangan dengan China seiring berlakunya pengenaan tarif baru AS terhadap produk Negara Tirai Bambu.

Memanasnya tensi dagang antara dua negara konsumen minyak terbesar ini dapat berpengaruh terhadap permintaan minyak dunia. Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan gabungan konsumsi minyak AS dan China mengambil porsi 34 persen dari total konsumsi minyak dunia pada kuartal I 2019.

Sementara itu, pada perdagangan Jumat (10/5) lalu, harga minyak masih mendapatkan sokongan dari antisipasi investor terhadap meningkatnya permintaan minyak di AS sebelum memasuki musim berkendara pada musim panas. Kilang - kilang minyak di Pantai Teluk dan Midwestern AS juga telah mengakhiri periode perawatannya.

Tak ayal, Kepala Analis Oil Price Information Service Tom Kloza menilai harga minyak mentah lebih berpotensi untuk menanjak dibandingkan turun.

[Gambas:Video CNN]

"Dengan mulai beroperasinya kilang -kilang di Gulf (AS), permintaan akan berada di atas pasokan secara signifikan untuk 100 hari ke depan atau lebih," ujar Kloza.

Perhatian investor juga terpusat pada pengetatan pasokan menyusul implementasi kesepakatan pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sejak awal tahun. Investor meyakini OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan yang berlaku selama 6 bulan tersebut dalam beberapa pekan ke depan.

"Kami sedang menunggu untuk melihat apakah Arab Saudi memberikan sinyal untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi dalam beberapa pekan ke depan," ujar Wakil Kepala Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian kepada Reuters di Connecticut, AS.

Pasar juga mendapatkan dorongan lebih besar dari pengenaan sanksi AS yang menargetkan bisa memangkas seluruh ekspor Iran ke pasar global. Sebelumnya, AS kembali mengenakan sanksi terhadap Iran pada November 2018 lalu setelah keluar dari perjanjian nuklir antara AS, Iran, dan sejumlah negara besar yang diteken pada 2015 lalu.

Awalnya, AS masih memberikan pengecualian pemberlakuan sanksi kepada delapan negara importir terbesar minyak Iran, di antaranya China dan India. Dalam hal ini, kedelapan negara tersebut diizinkan tetap mengimpor minyak dari Iran. Namun, pengecualian tersebut berakhir pada awal Mei 2019 lalu untuk memberikan tekanan terhadap Iran.

Tiga sumber Reuters menyatakan China Petrochemical Corp (Sinopec Group) dan China National Petroleum Group (CNPC) telah menghentikan impor minyak dari Iran pada Mei 2019. Hal itu menyusul penghapusan pengecualian sanksi AS terhadap Iran. Sebagai catatan, Sinopec Group dan CNPC merupakan dua perusahaan kilang pelat merah terbesar di China.


(sfr/agt)