Kerusuhan Aksi 22 Mei Dinilai Ancam Laju IHSG

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 13:00 WIB
Kerusuhan Aksi 22 Mei Dinilai Ancam Laju IHSG Ilustrasi IHSG. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi 22 Mei yang diwarnai kerusuhan di beberapa tempat di Jakarta menjadi ancaman bagi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada pembukaan perdagangan sesi kedua, IHSG berada di level 5.932, melemah 0,32 persen atau 19,24 poin dari perdagangan sebelumnya. 

Pada pembukaan perdagangan tadi pagi, indeks terpantau melemah 2,98 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.948 dari level pada penutupan perdagangan kemarin 5.951. Selang 30 menit kemudian, indeks berhasil kembali ke zona hijau dengan menguat sebesar 2,14 poin atau 0,03 persen ke level 5.952 hingga akhirnya kembali merosot pada perdagangan siang hari.

Padahal, dalam dua hari berturut-turut, indeks terpantau menguat. Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG berhasil naik sebesar 44,25 poin atau 0,75 persen ke posisi 5.951,37. Sejak awal tahun ini, imbal hasil (return) IHSG tercatat -4,24 persen.


Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan kerusuhan pada aksi 22 Mei memang memberikan sentimen negatif bagi IHSG yang sebenarnya sudah berhasil bergerak positif selama dua hari belakangan kemarin.


Ia menuturkan dalam dua hari terakhir indeks berhasil menguat ditopang sentimen positif dari pengumuman hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Dalam pengumuman tersebut, pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin keluar sebagai pemenang Pilpres 2019.

"Di awal hari ini ada sedikit sentimen negatif dari kerusuhan di aksi 22 Mei yang merupakan ditujukan untuk  menolak hasil Pilpres 2019 KPU dan gugatan kecurangan dalam Pilpres," katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/5).

Ia menilai aksi yang tidak kondusif akan menimbulkan kekhawatiran bagi investor asing. Imbasnya, mereka akan melarikan dananya ke luar negeri (capital outflow).

"Ini menandakan investor domestik yang cenderung optimis dan asing cenderung berhati-hati dalam melakukan trading atau pembelian aset berisiko di Indonesia," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

Ia memprediksi jika indeks tidak mampu menembus posisi di atas 5.900, maka ada potensi IHSG untuk kembali berbalik melemah ke level support 5.800.

Sebaliknya, jika indeks berhasil menembus ke atas level 5.900, maka ada potensi IHSG menguji level psikologis 6.000. Ia menilai pelemahan ini hanya terjadi sementara.

Investor akan terus memantau aksi demonstrasi yang berlangsung hingga perdagangan sesi I nanti.  
"Tapi jika dilihat kondisi negatif Jakarta di tengah aksi demonstrasi, kami melihatnya IHSG cenderung sepi dan bergerak di bawah 5.900," tuturnya.

Senada, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyatakan bahwa pelemahan IHSG dipicu kerusuhan pada aksi 22 Mei.


"Tampaknya orang sedikit berhati-hati karena antisipasi peluang demo, sehingga pasar pada pagi hari ini memerah dan terjadi tekanan jual serta profit taking (ambil untung)," ujarnya.

Ia menilai seharusnya indeks melaju positif lantaran adanya sentimen positif dari global, yakni pencabutan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Huawei.

Kendati demikian, ia meyakini sentimen ini hanya merupakan sentimen sementara. Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati aksi demonstrasi yang berlangsung sepanjang hari ini.

Sebab, hasil Pilpres yang dimenangkan oleh Jokowi-ma'ruf telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Oleh sebab itu, ia menilai seharusnya pelaku pasar tidak perlu panik dan memanfaatkan momentum pelemahan sementara ini untuk membeli saham atau buy on weakness.


"Kelihatannya polisi dan tentara bisa antisipasi aksi demonstrasi. Dan kalau kita lihat Pemilu kita selalu aman dan adil, jadi kami melihat hanya sentimen sementara saja," katanya.

Ia memprediksi, IHSG akan berada di level support 5.905 dan resistance 6.000 pada perdagangan hari ini. (ulf/agt)