Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.488 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.462 per dolar AS.
Siang hari ini, rupiah harus menjadi mata uang dengan performa paling buruk di Asia. Setelah rupiah, Malaysia menempati peringkat terburuk kedua dengan pelemahan 0,23 persen terhadap dolar AS dan disusul dolar Singapura sebesar 0,19 persen, yuan China 0,15 persen, won Korea Selatan sebesar 0,09 persen, dan baht Thailand 0,06 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah siang hari ini disebabkan karena investor marak melakukan aksi ambil untung (profit taking) terhadap pasar modal di Indonesia. Ini dilatarbelakangi oleh kerusuhan yang terjadi di Jakarta sejak semalam kemarin, sebagai respons dari hasil pemilihan umum yang dituduh sarat kecurangan.
Jika situasi tak kondusif, ia yakin sentimen domestik terhadap investor akan semakin kuat sehingga masih ada kemungkinan rupiah bisa jatuh ke Rp15 ribu per dolar AS pada pekan ini. Hal ini, lanjut dia, mungkin saja jika dibumbui dengan sentimen eksternal yang ada saat ini. Meski memang, sentimen dari luar negeri sudah mulai mereda.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau minggu ini nilai tukar sampai Rp15 ribu, ini wajar karena masalah politik. Tapi semoga ini bisa diselesaikan oleh polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) agar situasi kondusif lagi," jelas Ibrahim.
Sementara itu, Analis Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan aksi massa usai pemilu akan menjadi perhatian pelaku pasar pada hari ini. Apalagi, sejatinya sentimen eksternal, utamanya perang dagang, sudah mulai mereda.
"Hari ini rupiah masih bisa bergerak di kisaran Rp14.400 hingga Rp14.500 per dolar AS," jelas dia.