Rupiah Sore Ini Menguat Tipis Rp14.450 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 16:42 WIB
Rupiah Sore Ini Menguat Tipis Rp14.450 per Dolar AS Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.450 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (17/5) sore. Posisi ini menguat tipis 0,01 persen dibandingkan penutupan Kamis (16/5) yakni Rp14.452 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.469 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.458 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.450 hingga Rp14.465 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,17 persen, baht Thailand melemah 0,22 persen, dolar Singapura melemah 0,22 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,28 persen. Kemudian, peso Filipina melemah 0,33 persen, won Korea Selatan melemah 0,37 persen, dan yuan China melemah 0,48 persen.


Di sisi lain, hanya yen Jepang saja yang tercatat menguat terhadap dolar AS, yakni 0,21 persen. Kemudian, dolar Hong Kong terlihat tidak bergerak terhadap dolar AS.


Sementara itu, mata uang negara maju juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS, seperti euro sebesar 0,02 persen, dolar Australia sebesar 0,24 persen, dan poundsterling Inggris sebesar 0,15 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rilis data ekonomi AS bikin indeks dolar AS kian perkasa melawan mata uang lainnya.

Kemarin, data pembangunan rumah AS pada April tercatat sebanyak 1,23 juta unit atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan. Ini lebih besar dari proyeksi sebelumnya yakni 1,20 juta unit di bulan Maret.

Kemudian, data pengangguran AS juga membaik pada pekan lalu. Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat pendaftaran tunjangan pengangguran (unemployment benefit) turun 16 ribu menjadi 212 ribu.


"Dengan data ekonomi yang positif, kemungkinan bagi The Fed selaku bank sentral AS untuk memangkas tingkat suku bunga acuan menjadi berkurang," jelas Ibrahim, Jumat (17/5).

Namun, pelemahan ini tertahan seiring rencana China berniat untuk melepas kepemilikan atas obligasi negara AS sebagai senjara utama negara tirai bambu itu dalam menghancurkan ekonomi AS. Ini dianggap sebagai balasan China atas sikap AS yang menaikkan tarif bea masuk impor secara sepihak.
[Gambas:Video CNN]
Saat ini, China memiliki obligasi negara AS sebesar US$1,12 triliun dan sudah melepas US$20,5 miliar. Artinya, aliran modal keluar (outflow) dari AS nantinya bisa berdampak baik bagi mata uang negara berkembang.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga menunda menaikkan bea masuk impor mobil dan suku cadang dari Uni Eropa selama enam bulan ke depan. Pelaku pasar membaca bahwa Trump tak mau memantik risiko perang dagang ronde baru di tengah panasnya hubungan dagang dengan China. Ini bisa meredam kekhawatiran pasar.

"Langkah yang dilakukan China menunjukkan pola berlanjut berkurangnya kepemilikan China yang terjadi ketika kedua belah pihak masih belum mampu menyepakati perjanjian dagang," imbuh dia. (glh/agi)