Aksi 22 Mei Reda, Rupiah Melesat Rp14.480 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 16:43 WIB
Aksi 22 Mei Reda, Rupiah Melesat Rp14.480 per Dolar AS Iustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.480 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (23/5) sore. Posisi ini menguat 0,31 persen dibandingkan penutupan Rabu (22/5) yakni Rp14.525 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah di posisi Rp14.513 per dolar AS, atau melemah dibanding kemarin Rp14.488 per dolar AS. Rupiah sepanjang hari ini bergerak dalam rentang Rp14.459 hingga Rp14.525 per dolar AS.

Sore hari ini, pergerakan mata uang Asia terbilang bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah seperti peso Filipina sebesar 0,08 persen, rupee India sebesar 0,11 persen, yuan China sebesar 0,12 persen, dan baht Thailand sebesar 0,15 persen. Kemudian, dolar Singapura juga melemah 0,17 persen dan ringgit Malaysia melemah 0,19 persen.



Namun, terdapat pula mata uang Asia yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, yen Jepang sebesar 0,2 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,36 persen. Di sisi lain, mata uang negara maju terbilang melemah seperti euro sebesar 0,08 persen, dolar Australia sebesar 0,11 persen, dan poundsterling Inggris melemah 0,33 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menyebut penguatan rupiah hari ini disebabkan sentimen domestik yang cukup kuat. Gelombang ricuh yang perlahan usai bikin investor memborong kembali rupiah pada hari ini, meski banyak sekali sentimen global yang mewarnai rupiah juga di hari ini.

Pertama, adalah hasil notulensi Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bank sentral AS The Fed yang masih terus bersabar sebelum mengubah suku bunga acuan Fed Rate. Hal ini tentu masih belum memberikan efek positif bagi rupiah, karena The Fed belum mau memangkas suku bunga acuannya.


Kedua, adalah tindakan AS yang berencana mengenakan bea masuk baru untuk produk impor China senilai US$300 miliar. Jika ini berlangsung, artinya perang dagang kian sengit, dan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi global. Namun, bisa jadi wacana ini hanya gertak sambal AS dalam negosiasi perang dagang.

"Walaupun ada isu perang dagang antara AS dan China serta yang lain masih dominan, namun efek meredanya kekisruhan di Jalan MH Thamrin, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Tanah abang dan Petamburan membuat rupiah kembali menguat," jelas Ibrahim, Kamis (23/5). (glh/agi)