EDUKASI KEUANGAN

Memilah Asuransi Pendidikan untuk Jamin Masa Depan Anak

Safyra Primadhyta & Dinda Audriene, CNN Indonesia | Sabtu, 15/06/2019 10:10 WIB
Memilah Asuransi Pendidikan untuk Jamin Masa Depan Anak Ilustrasi (Rifkianto Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nelson Mandela pernah berkata, 'pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia'. Begitu besarnya manfaat pendidikan membuat orang tua rela mengeluarkan biaya yang besar demi memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anaknya.

Namun, rencana menyekolahkan anak hingga ke jenjang sarjana bisa buyar jika kesulitan finansial melanda di tengah jalan. Misalnya, karena pencari nafkah meninggal atau mengalami kecelakaan sehingga mengubah kondisi keuangan keluarga. Padahal, biaya pendidikan semakin mahal dari tahun ke tahun seiring terjadinya inflasi.

Berkaca pada kondisi tersebut, Eni (45) yang berprofesi sebagai PNS mengaku telah menyiapkan asuransi pendidikan untuk ketiga anaknya sejak ia dan sang suami menikah puluhan tahun silam. Ia mengaku terinspirasi para orang tua di Jepang yang memiliki perencanaan matang untuk pendidikan anak, kala sempat bertugas dan tinggal di negara tersebut selama beberapa bulan.


"Mereka sangat memikirkan keluarga, anak-anaknya. Orang Jepang rencana kehidupannya bagus, saya terinspirasi. Saya ambil asuransi, ambil yang jangka waktunya sekitar 15 tahun sampai 20 tahun baru bisa diambil," cerita Eni kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/6).

Eni dan suami pun rela menyisihkan gajinya untuk membayar premi asuransi pendidikan untuk buah hati. Agar tak terlalu berat, ia memilih membayar premi secara auto debit dari tabungan per tahun.

"Jadi diambilnya dari tabungan itu tidak bulanan. Kalau bulanan memang terasa sekali, kalau setahun kan langsung banyak tapi satu kali saja per tahun," ungkap Eni.


Asuransi itu rencananya akan digunakan untuk biaya kuliah ketiga anaknya. Masing-masing anak memiliki satu polis asuransi.

Sementara untuk membiayai anaknya dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah ke Atas (SMA), ia dan suami memutuskan untuk menggunakan tabungan. Dengan cara seperti ini, Eni merasa tak pernah kelimpungan ketika jadwal pembayaran tiba. Sejauh ini, uang dalam tabungan cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan sang anak.

"Anak saya kebetulan di sekolah negeri, murah. Negeri juga kan tidak bayar. Jadi keluar uang sedikit untuk beberapa hal, ya mungkin ekstrakulikuler," tuturnya.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai penting bagi orang tua untuk memiliki asuransi pendidikan anaknya. Hal itu dilakukan agar dana pendidikan anak terjamin.

Di Indonesia, sejumlah perusahaan asuransi sudah mengeluarkan produk asuransi pendidikan. Misalnya Manulife dengan Manulife Education Protector dan Graduate, Prudential dengan PRULink Edu Protection, Mandiri dengan Mandiri Sejahtera Cerdas, dan Sequis dengan Telepro Beasiswa Berjangka.
Memilah Asuransi Pendidikan untuk Jamin Masa Depan AnakIlustrasi. (stokpic/Pixabay)
Masing-masing produk asuransi pendidikan memiliki persyaratan peserta dan skema yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemegang polis. Untuk itu, sebelum memilih produk, calon pemegang asuransi harus memperhatikan betul ketentuannya seperti batasan umur orang tua dan anak, masa pertanggungan, masa pembayaran premi, besaran pertanggungannya, dan kapan biaya pertanggungan dibayarkan.

"Yang harus diperhatikan, jangka waktu asuransi harus disesuaikan dengan saat dana dibutuhkan untuk masuk sekolah. Apakah SD, SMA atau Universitas. Kemudian, jumlah atau nilai pertanggungan harus sesuai dengan kebutuhan," ujar Irvan kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/6).

Selain itu, Irvan juga menyarankan orang tua sebaiknya memilih asuransi yang bersifat tabungan bukan proteksi. Pasalnya, asuransi tabungan bersifat dwi guna yaitu bila pemegang polis meninggal di tengah jangka waktu atau masa jangka waktu polis berakhir seluruh biaya pertanggungan pendidikan yang disepakati di awal akan diganti penuh.

"Sementara, asuransi proteksi hanya mengganti (biaya) bila di jangka waktu terjadi musibah. Apabila hingga jangka waktu berakhir tidak terjadi musibah tidak diganti," jelasnya.

Ia menyarankan orang tua, selaku pemegang polis memiliki asuransi pendidikan di usia semuda mungkin agar premi yang ditanggung lebih murah mengingat jangka waktunya lebih panjang.


Irvan juga mengingatkan agar pemegang polis tidak lupa membayar asuransinya tepat waktu. Jika telat membayar, asuransi kepesertaan bisa ditangguhkan atau bahkan dibatalkan. Selain itu, ada perusahaan asuransi yang memberlakukan kebijakan denda jika premi terlambat dibayar.

"Masalah yang sering terjadi yaitu lupa membayar premi hingga lewat tenggang waktu 3 bulan," ujarnya.

Perencana Keuangan dan Mitra Rencana Edukasi Andi Nugroho menilai penting bagi orang tua untuk memiliki asuransi pendidikan agar masa depan pendidikan anak terjamin.

"Asuransi pendidikan itu diperlukan apabila sang pencari nafkah dalam keluarga (biasanya ayah atau ibu, atau keduanya) tidak bisa mencari nafkah lagi baik karena sakit, kecelakaan atau bahkan meninggal dunia sehingga anak-anaknya tidak mengalami kesulitan dalam membiayai sekolah mereka sampai di jenjang yang memang dicita-citakan," ujarnya.


Senada dengan Irvan, menurut Andi fitur yang ditawarkan oleh produk asuransi menjadi hal penting untuk diperhatikan. Salah satunya, cari asuransi yang bisa menyediakan fitur untuk membebaskan nasabah dari pembayaran premi seandainya tertanggung tidak bisa mencari nafkah karena sakit ataupun kecelakaan.

"Ada asuransi yang mengeluarkan dana 'beasiswa' bagi nasabahnya secara berkala pada usia masuk SD, SMP, SMA, dan seterusnya. Namun, ada juga yang memberikan dana beasiswanya sekali saja di suatu waktu. Silakan dipilih saja," ujarnya.

Lebih lanjut, Andi menambahkan idealnya besarnya premi akan mengikuti besarnya uang pertanggungan asuransi yang diinginkan pemegang polis. Kendati demikian, bila belum memungkinkan untuk mendapatkan uang pertanggungan seperti yang diinginkan karena masih banyak kebutuhan lain maka angka premi yang realistis adalah di kisaran 10 hingga 15 persen dari penghasilalan.

Oleh karena itu, Andi menyarankan orang tua memiliki asuransi pendidikan sedini mungkin sejak si anak belum sekolah agar premi yang ditanggung lebih ringan.

[Gambas:Video CNN] (agi)