OJK 'Buka Pintu' Investor yang Tertarik Akuisisi Bank Permata

CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 23:52 WIB
OJK 'Buka Pintu' Investor yang Tertarik Akuisisi Bank Permata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan lembaganya membuka pintu bagi siapa saja pihak yang tertarik memiliki Bank Permata. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku membuka pintu bagi investor mana pun yang tertarik untuk mengakuisisi PT Bank Pertama Tbk. Bank Mandiri sebelumnya berencana mengambil alih sebagian saham Bank Permata, tetapi kemudian dikabarkan batal.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan lembaganya membuka pintu bagi siapa saja pihak yang tertarik memiliki Bank Permata. Pasalnya, hal tersebut sebenarnya merupakan bagian dari aksi korporasi perusahaan.

Sementara sebagai regulator keuangan, menurut dia, OJK hanya dapat memberi restu dan memastikan kemampuan investor yang akan mengambil alih operasional Bank Permata atau pun hanya sekadar membeli kepemilikan sahamnya.


"Ini proses korporasi, jadi silakan saja. Kami tidak terlalu fanatik dengan siapa yang harus melakukan akusisi. Silakan dilakukan sesuai bisnis normal," ungkap Wimboh di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/6).


Kendati begitu, Wimboh mengatakan sampai saat ini belum ada pihak mana pun yang berkomunikasi dengan lembaganya terkait akusisi Bank Permata. Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sempat melakukan penjajakan dengan bank swasta itu, tetapi belakangan rencana tersebut dikabarkan tak berlanjut.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo sempat mengatakan bahwa proses sudah berlangsung pada tahapan due diligence (proses uji tuntas) dengan seluruh pemegang saham Bank Permata.

"Kalau cocok harganya jalan, kalau tidak ya tidak juga. Namanya negosiasi orang melakukan jual beli kan bisa cocok bisa tidak," terangnya, April lalu.

Selain berkomunikasi dengan Bank Permata, ia kala itu juga mengaku sudah berkoordinasi dengan OJK dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku pemegang saham Bank Mandiri. Meski demikian, pihaknya belum memperoleh izin resmi dari dua otoritas berwenang.

Jika proses akuisisi berlanjut, ia memastikan bahwa Bank Mandiri akan melebur (merger) Bank Permata dengan salah satu perusahaannya. Sebab, saat ini perusahaan dengan kode saham BMRI itu telah memiliki dua entitas anak yang bergerak di jasa perbankan, yakni PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap)

"Kami tidak mungkin punya anak usaha bank tiga, kalau pun dikasih kelonggaran. Jadi kami harus merger salah satu, tapi kemana belum tahu. Itu masih omongan dua tiga tahun ke depan, masih jauh," jelasnya.


Belakangan, rencana Bank Mandiri tersebut dikabarkan batal.

Ketertarikan Bank Mandiri mengambil alih Bank Permata lantaran Standard Chartered Bank berencana melepas 44,56 persen sahamnya.

Selain Standard Chartered Bank, PT Astra International Tbk (ASII) memiliki 44,56 persen saham perusahaan dengan kode BNLI itu. Sisanya, sebanyak 10,88 persen beredar di publik.

Kabar divestasi oleh Standard Chartered Bank sebenarnya sudah berhembus sejak 2015 saat kinerja bank tersebut mulai menurun. Namun, hal tersebut beberapa kali dibantah oleh Standard Chartered Bank.

Penurunan kinerja Bank Permata mulai terlihat sejak 2015. Kala itu, laba perseroan anjlok 84 persen dari 1,59 triliun tahun sebelumnya menjadi Rp247 miliar. Pada 2016, Bank Permata bahkan mencatatkan rugi mencapai Rp6,48 triliun (uli/agi)