Perang Dagang masih Jadi Penekan Harga Minyak Pekan Lalu

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 07:28 WIB
Perang Dagang masih Jadi Penekan Harga Minyak Pekan Lalu Ilustrasi minyak. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia melemah sepanjang pekan kemarin.  Pelemahan dipicu oleh melambatnya proyeksi permintaan global ke depan akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Dilansir dari Reuters, Senin (17/6), harga minyak mentah berjangka Brent pada Jumat (14/6) lalu ditutup di level US$62,01 per barel atau melandai sekitar 2 persen. Pelemahan tersebut telah terjadi selama 4 pekan berturut-turut.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) yang merosot hampir 3 persen menjadi US$52,51 per barel.


"Proyeksi permintaan yang tergerus menahan harga di tengah berbagai tensi," ujar Partner Again Capital LLC John Kilduff di New York.

Menurut Kilduff, perlambatan ekonomi telah menggerus pertumbuhan permintaan. Kondisi itu membayangi tensi yang terjadi antara Iran dan AS. Akibatnya, harga terjebak di pola tertahan.


"Kita menghadapi jalan buntu di sini," ujar Kilduff.

Badan Energi Internasional (IEA) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan untuk 2019 sebesar 100 ribu barel per hari (bph) menjadi 1,2 juta bph. Pertimbangannya adalah memburuknya prospek perdagangan dunia.

Bahkan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global akan lebih rendah menjadi 1,14 juta bph. Meski demikian, proyeksi pertumbuhan permintaan IEA untuk 2020 diperkirakan naik menjadi 1,4 juta bph.

Dari sisi pasokan, pada Kamis (13/6) lalu, serangan pada dua kapal tanker di dekat Iran dan Selat Hormuz mendongkrak harga sekitar 4,5 persen. Serangan yang terjadi di zona paling penting untuk pasokan minyak dunia itu terjadi untuk kedua kalinya pada bulan ini, seiring memanasnya tensi antara AS dan Iran.

Pemerintah AS menyalahkan Iran terkait serangan tersebut. Tudingan tersebut memicu bantahan dan kritik dari Iran. Selang sehari, pada Jumat (14/6), harga minyak kembali menguat sekitar 1 persen mengingat serangan pada 2 kapal tanker di Teluk Oman itu memicu sentimen akan terjadinya gangguan pasokan.

[Gambas:Video CNN]

Pemerintah AS menyatakan kapal militer Iran di Teluk Oman mencegah dua kapal penarik swasta untuk menarik satu tanker yang rusak akibat serangan itu.

"Berita utama baru-baru ini terkait hambatan kapal penarik membuat para trader cenderung melakukan aksi beli kembali," ujar Analis Pasar Energi CHA Hedging LLc Anthony Headrick di Minnesota.

Eskalasi tensi di Timur Tengah terjadi sejak Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk keluar dari perjanjian nuklir multilateral dengan Iran yang disepakati pada 2015 lalu. Tak hanya itu, AS juga mengenakan kembali sanksi terhadap Iran yang secara khusus menyasar ekspor minyaknya.

Iran menyatakan tidak akan takut dengan apa yang disebut sebagai perang psikologi. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan AS telah menyimpulkan Iran berada di balik serangan pada Kamis lalu.


Militer AS juga merilis video yang disebut menunjukkan Penjaga Revolusioner Iran memindahkan ranjau yang tak meledak dari sisi kapal minyak yang dimiliki Jepang. Selain serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Oman, IEA menilai ketidakpastian pasokan juga terdampak oleh sanksi AS terhadap Iran dan kebijakan pemangkasan produksi oleh OPEC dan sekutunya.

Melesatnya pasokan dari AS dan kenaikan pasokan di Brazil, Kanada dan Norwegia akan berkontribusi terhadap kenaikan pasokan di negara non OPEC sebesar 1,9 juta bph pada tahun ini dan 2,2 juta bph pada 2020. Sementara itu, Baker Hughes mencatat perusahaan energi AS mengurangi juga rig minyak yang beroperasi selama 2 pekan berturut-turut.


(sfr/agt)