Minyak Merosot 1 Persen Akibat Perang Dagang

CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 07:27 WIB
Minyak Merosot 1 Persen Akibat Perang Dagang Ilustrasi minyak. (Foto: REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (10/6) waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh peningkatan tensi perdagangan AS-China yang mengancam permintaan minyak mentah.

Selain itu, pelemahan juga disebabkan oleh Arab Saudi dan Rusia, selaku produsen minyak utama dunia, yang belum sepakat untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi minyak mentah.

Dilansir dari Reuters, Selasa (11/6), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$1 atau 1,6 persen menjadi US$62,29 per barel. Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,73 atau 1,4 persen menjadi US$53,26 per barel.


Presiden AS Donald Trump menyatakan siap untuk mengenakan tarif impor baru terhadap produk China jika ia tak mencapai kesepakatan perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping pada pertemuan G20 yang berlangsung pada Juni ini.


Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China menyatakan China terbuka untuk melakukan pembahasan perdagangan lanjutan dengan AS. Namun, China belum mengumumkan tentang kemungkinan kembali menggelar pertemuan dengan AS.

Pada Mei 2019 lalu, data kepabeanan China menunjukkan impor minyak mentah Negeri Tirai Bambu tergelincir menjadi sekitar 40,23 juta ton. Pada bulan sebelumnya, impor minyak mentah China menyentuh level 43,73 juta ton, level tertinggi sepanjang masa.

Penurunan impor terjadi karena impor dari Iran yang merosot akibat pengenaan sanksi dari AS serta perawatan kilang.

"Seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap tarif impor AS-China, kami melihat lebih banyak penyesuaian ke bawah pada permintaan minyak global sepanjang tahun ini maupun tahun depan yang memberikan batasan pada harga sewaktu-waktu," ujar Pimpinan Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.


Dalam catatan Bank Barclays, para ekonomnya telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, China, India dan Brazil. Keempat negara tersebut menguasai lebih dari sepertiga dari asumsi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun ini.

"Revisi tersebut menyiratkan pengurangan 300 ribu barel per hari (bph) pada proyeksi pertumbuhan permintaan global saat ini yang sebesar 1,3 juta barel per hari (bph) untuk tahun ini," ujar Barclays.

Di sisi suplai, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan Rusia adalah satu-satunya negara yang belum memutuskan terkait kebutuhan untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi minyak oleh produsen minyak utama dunia.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, telah sepakat untuk menahan pasokan minyaknya sejak awal tahun ini demi mendongkrak harga. Kesepakatan itu akan berakhir pada akhir bulan ini.

Kendati demikian, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan masih ada risiko produsen memproduksi terlalu banyak minyak mentah dan harga turun tajam. Menurut Novak, ia tidak bisa menghilangkan risiko penurunan harga minyak ke level US$30 per barel jika kesepakatan global itu tidak diperpanjang.

[Gambas:Video CNN]

Novak mengungkapkan banyak negara pengekspor minyak yang telah mengkonfirmasi pertemuan dengan OPEC akan digelar pada 2-4 Juli 2019 di Wina, Austria atau mundur dari jadwal awal yang direncanakan bulan ini.

Di AS, Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan produksi minyak mentah pekan lalu melesat hingga menyentuh rekor mingguan di level 12,4 juta bph. Stok minyak mentah juga merangkak hingga hampir mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

"Pasar telah melihat tekanan yang terjadi pada dua pekan terakhir akibat kenaikan signifikan pada produksi minyak mentah dan persediaan produk di AS yang telah menekan harga di saat pasar tengah menanti hasil dari pertemuan anggota OPEC dan non OPEC mendatang," ujar Pimpinan Lipow Oil Associates Andrew Lipow di Houston.

(sfr/agt)