Tiga Saham IPO Pekan Lalu Masih Layak Koleksi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 09:57 WIB
Tiga Saham IPO Pekan Lalu Masih Layak Koleksi Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan tiga anggota baru sepanjang pekan lalu. Salah satu yang spesial, ada nama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk alias Bali United.

Bali United akhirnya resmi menjadi klub bola pertama yang menghuni lantai Bursa pada Senin (17/6). Kemudian PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk mencatatkan sahamnya pada Selasa (18/6). Diikuti oleh PT Surya Fajar Capital Tbk yang melantai di BEI pada Rabu (19/6).

Secara historis, pelaku pasar kerap menjadikan saham-saham baru sebagai spekulasi. Maklum, harga saham tersebut biasanya melambung pada perdagangan perdananya.


Bahkan, tak jarang saham yang baru melantai di Bursa kena auto rejection atas karena kenaikannya mencapai batas yang ditentukan. Hal itu pula yang terjadi pada Bali United dan Surya Fajar Capital karena sahamnya langsung naik hampir 70 persen pada perdagangan perdana.

Auto rejection adalah sistem penolakan otomatis jika terjadi kenaikan dan penurunan harga saham yang melampai batas tertentu yang ditetapkan BEI.


Berdasarkan aturan, auto rejection berlaku jika saham dengan rentang harga Rp50-200 mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari 35 persen. Lalu untuk saham dengan rentang Rp 200-Rp 5.000 ditetapkan sebesar 25 persen dan saham dengan rentang harga di atas Rp5.000 sebesar 20 persen.

Sementara khusus pada listing atau perdagangan perdana, batas maksimal kenaikan atau penurunan ditetapkan dua kali lipat. Sebesar 70 persen untuk saham dengan rentang harga Rp50-200, 50 persen bagi saham dengan rentang Rp 200-Rp 5.000, dan 40 persen bagi saham dengan rentang harga di atas Rp5.000.

Bila diakumulasi sejak hari pertama diperdagangkan hingga Jumat (21/6) kemarin, saham Bali United melonjak 30,4 persen dan Surya Fajar Capital 55,34 persen. Sementara, saham Communication Cable Systems Indonesia terkoreksi 8,13 persen.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan pelaku pasar yang menginginkan keuntungan cepat masih bisa memanfaatkan momentum pencatatan saham untuk mengoleksi ketiga saham tersebut pekan ini. Ia menilai saham-saham itu berpotensi naik dalam jangka pendek.

"Saham yang baru tercatat tetap bisa dijadikan spekulasi walaupun kenaikannya kemungkinan tidak sebagus awal masa pencatatan," ungkap William kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/6).


Spekulasi, kata William, artinya pelaku pasar bisa membeli saham dengan jangka waktu pendek atau biasa disebut trading. Pelaku pasar dapat membeli dan menjual pada hari yang sama, atau berselang beberapa jam dari transaksi beli.

Hal itu bisa dilakukan dalam beberapa waktu ke depan. Namun, pelaku pasar tak disarankan menyimpannya dalam jangka menengah atau pendek.

"(Spekulasi saham) bisa dilakukan sampai dua bulan (setelah saham melakukan pencatatan di BEI)," terang William.

Ia meramalkan ketiga saham tadi memiliki peluang untuk naik sekitar 7 persen-12 persen. Hanya saja, pelaku pasar tetap harus hati-hati karena transaksi yang dilakukan hanya didasarkan atas spekulasi semata.

Sependapat, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan tiga emiten ini bisa menjadi opsi pelaku pasar yang ingin membeli saham di luar daftar saham berkapitalisasi pasar besar (big capitalization/big cap) dan lapis kedua (second liner).

"Sebagai opsi kenapa tidak karena saat ini pasar sedang jenuh," ujar Nico.
[Gambas:Video CNN]
Apalagi, tingkat spekulasi saham Bali United dan Surya Fajar Capital dinilai cukup tinggi. Dengan begitu, pelaku pasar dapat mengambil posisi beli atau ikut mengantre di pasar reguler untuk membeli saham-saham tersebut.

"Saham Surya Fajar Capital dan Bali United ini spesial, ada faktor tertentu yang memiliki pengaruh cukup banyak terhadap pergerakan saham," kata dia.

Kendati begitu, Nico dan William sama-sama meminta pelaku pasar untuk tetap memperhatikan kondisi fundamental ketiga saham ini. Hal itu bisa dilihat dari laporan keuangan perusahaan periode kuartal I atau semester I 2019 yang akan dirilis nantinya.

Masalahnya, pergerakan saham tak selalu sejalan dengan kinerja laporan keuangan perusahaan. Harga saham boleh naik, tapi belum tentu keuangannya positif dan begitu juga sebaliknya.

"Kalau mereka (pelaku pasar) yakin dengan kinerja perusahaan, sektor bisnisnya, tentu hal ini akan menjadi saham dalam jangka panjang," jelas Nico.


Di sisi lain, Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menambahkan pelaku pasar harus disiplin jika ingin mencoba spekulasi pada saham-saham yang baru tercatat di Bursa. Misalnya, mereka harus menetapkan target harga saham teratas dan terbawah untuk tahu kapan harus menjualnya kembali.

"Kalau mau untuk trading harus disiplin cut loss dan target harga. Ini karena kinerja fundamental belum terbukti untuk saham-saham yang baru tercatat," katanya.

Cut loss artinya aksi jual yang dilakukan pelaku pasar untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Tindakan itu diterapkan ketiga harga saham sedang melemah atau di luar perkiraan sebelumnya.

Diketahui, Bali United merupakan klub sepak bola asal Bali. Berada di bawah naungan Bali Bintang Sejahtera, Bali United menjadi klub bola pertama yang mencatatkan sahamnya di BEI.

Sementara, Surya Fajar Capital merupakan perusahaan yang fokus pada jasa konsultasi keuangan. Kemudian, Communication Cable Systems Indonesia adalah satu satu produsen kabel serat optik di Indonesia. (agi)