ANALISIS

Nasi Sudah Jadi Bubur, Bandara Kertajati Tak Boleh Mundur

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Rabu, 26/06/2019 11:40 WIB
Nasi Sudah Jadi Bubur, Bandara Kertajati Tak Boleh Mundur Bandara Kertajati. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mulai 1 Juli 2019, seluruh penerbangan domestik dari dan ke Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung akan beralih ke Bandara Internasional Kertajati di Majalengka.

Setidaknya, ada 56 penerbangan, meliputi 13 rute domestik yang akan lalu lalang di Bandara Kertajati, termasuk penerbangan oleh maskapai Garuda Indonesia, AirAsia, Citilink, dan Lion Air.

Bandara baru yang melayani lintas udara Jawa Barat itu akhirnya tidak sepi seperti hari-hari sebelumnya sejak resmi beroperasi Mei 2018 lalu. Disebut sepi karena sepanjang tahun lalu, jumlah penumpang yang dilayani Bandara Kertajati cuma 35 ribu orang.


Sementara, di Bandara Husein Sastranegara, rata-rata jumlah penumpang mencapai 9 ribu per hari. Bahkan, bisa menyentuh 10 ribu-11 ribu pada akhir pekan.


Persoalannya, Bandara di Bandung ini cuma seluas 145 hektare (ha). Tidak cuma itu, landasan pacu di Bandara Husein Sastranegara hanya 2.250 meter. Itu pun pengelola bandara harus menebang gunung. Padahal, di wilayah sekitar juga terdapat lapangan tembak milik TNI.

Bandingkan dengan Bandara Kertajati yang seluas 837 ha dengan landasan pacu lebih panjang, yaitu sepanjang 3 ribu meter.

Seharusnya, nyaman dimiliki Bandara Kertajati. Kenapa muncul kontroversi? Bahkan, sebagian masyarakat mengisyaratkan tak sudi ke Majalengka. Lucunya lagi, sebagian dari masyarakat malah terang-terangan memilih ke Bandara Soekarno Hatta atau Halim Perdanakusumah ketimbang Bandara Kertajati.


Dudi Sudibyo, Pengamat Penerbangan, mengaku maklum. Pasalnya, jarak tempuh dari Bandung ke Majalengka mencapai 197,2 kilometer (Km) atau nyaris 3 jam. Sementara, jarak tempuh Bandung ke Jakarta cuma 152,5 Km. Dengan moda transportasi kereta, jarak itu bisa ditempuh selama dua jam.

Selain itu, alasan transportasi publik dari Bandung dan ke Jakarta lebih menjanjikan dan pasti. Masyarakat terbiasa dengan angkutan umum kereta maupun bus/travel. Berbeda dengan perjalanan dari Bandung ke Majalengka dan sebaliknya, orang awam masih minim informasi.

"Memang, sejatinya siap dulu infrastruktur pendukungnya, alat transportasinya, kereta atau jalan tol. Sekarang kan masih dalam proses, sudah harus pindah bandara. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, jangan dibuang atau diabaikan. Sayang investasinya. Nanti jadi sia-sia," ujar Dudi kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/6).

Diketahui, investasi Bandara Kertajati merogoh kocek Rp2,6 triliun. Ini bukan uang yang sedikit. "Mubazir kalau tidak dipakai, tentunya harus dimanfaatkan. Lagipula, Bandara Husein Sastranegara ibaratnya sudah mentok, tidak bisa dikembangkan lagi. Dikepung perumahan juga kan sekarang," jelasnya.


Arista Atmadjati, CEO and Founder Arista Indonesia Aviation Center, menyebut kebijakan pengalihan Bandara di Bandung ke Kertajati sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Ia menegaskan bahwa keputusan ini hasil rancangan 12 tahun lalu, sejak Danny Setiawan menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

"Orang yang tidak tahu mungkin akan menganggap pemerintah ceroboh. Tetapi tidak begitu. Bandara Kertajati ini proyek mangkrak sejak zaman Presiden ke-6 SBY, dan mantan gubernur Danny Setiawan, yang kemudian dilanjutkan oleh Presiden Jokowi," imbuh Arista.

Alasan Bandara Husein Sastranegara tidak bisa dipertahankan karena landasan pacunya hanya bisa menampung pesawat berkapasitas 150 kursi. Beda dengan Bandara Kertajati yang disiapkan untuk pesawat berbadan lebar (wide body). Selain itu, bandara di Bandung kerap terkendala cuaca yang kurang baik.

"Kalau persoalannya menolak Bandara Kertajati karena jauh, fasilitas bisa dibangun kok. Pelan-pelan terbangun. Memangnya Bandara Soekarno Hatta semaju ini hanya sekejap mata? Kan tidak. Butuh puluhan tahun untuk Soetta maju seperti saat ini sejak dipindah dari Kemayoran tahun 1985 silam," tegas dia.


Malah, menurut dia, Bandara Kertajati bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk melayani penumpang saja. Tetapi juga untuk kargo, pengiriman barang kebutuhan ekspor, mengingat Majalengka dan wilayah sekitarnya, seperti Cirebon, Subang, juga dikenal sebagai penghasil produk pertanian, makanan laut, dan kerajinan tangan.

Tak hanya itu, sambung dia, pemanfaatan Bandara Kertajati juga bisa dilakukan untuk sekolah penerbangan, bengkel pesawat. "Penumpang jangan egois. Pikirkan dampak ekonomi dari pengoperasian Bandara Kertajati, ekspor kita bisa bergerak lebih cepat," terang Arista.
[Gambas:Video CNN]
Tak Bakar Duit Lagi

Direktur PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Muhammad Singgih mengaku biaya pemeliharaan yang digelontorkan untuk Bandara Kertajati sekitar Rp6 miliar per bulan. Biaya ini akan naik sedikit menjadi Rp7 miliar-Rp8 miliar per bulan jika operasionalnya penuh pada 1 Juli nanti.

Boleh dibilang, sekitar Rp66 miliar duit terbakar sejak Bandara Kertajati beroperasi pada Mei 2018 lalu karena tak dimanfaatkan. Karenanya, Arista mengingatkan agar Bandara Kertajati segera dioptimalkan.

"Bayangkan uang yang terbakar selama ini karena tidak ada pemanfaatan. Padahal, itu bisa digunakan untuk membangun fasilitas kan. Saya menyambut seluruh maskapai yang akan pindah ke Bandara Kertajati," katanya.


Sebelumnya, Lion Air, AirAsia, dan Garuda Indonesia telah menyatakan kesanggupannya memindahkan operasional dari Bandung ke Majalengka. AirAsia bahkan lebih semangat dengan memajukan jadwal pengalihan menjadi 30 Juni 2019.

Perusahaan perawatan pesawat PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) juga tengah mengkaji pembangunan fasilitas perawatan pesawat di Bandara Kertajati. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan mengaku membuka diskusi terkait rencana tersebut.

"Sementara kami sudah bicarakan. Masih dalam tahap pembicaraan, sesuai dengan kebutuhan juga sebenarnya," tutur dia.

Untuk tahap awal, ia menambahkan GMF akan mengoptimalkan penggunaan hanggar milik Angkasa Pura (AP) II di Bandara Kertajati untuk fasilitas perawatan pesawat. (agi)