Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.180 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.174 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di kisaran
Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,01 persen, rupee India menguat 0,06 persen, ringgit Malaysia menguat 0,08 persen, dan peso Filipina menguat 0,43 persen. Ini menjadikan rupiah sebagai juara kedua di Asia hari ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, mata uang negara maju juga cenderung menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,01 persen, poundsterling Inggris menguat 0,06 persen, dan dolar Australia menguat 0,17 persen.
Dengan demikian, ada kepastian bahwa Joko Widodo akan meneruskan kepemimpinannya dalam lima tahun ke depan. Investor tentu menyambut baik hasil ini, mengingat tidak akan ada perubahan kebijakan sehingga kepastian investasi tetap terjamin.
"Walhasil, sejumlah investor yang sejak gonjang-ganjing Pilpres menahan diri untuk berinvestasi, bisa kembali agresif masuk ke instrumen berisiko," jelas Ibrahim, Kamis (27/6).
Lihat juga:IHSG Menghijau, Naik ke Level 6.352 |
Lebih lanjut ia mengatakan penguatan rupiah juga berasal dari sentimen eksternal. Khususnya antisipasi mengenai pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akhir pekan ini.
Menurut beberapa kabar, rencananya China dan AS akan melakukan gencatan senjata terkait perang dagang yang bisa mencegah AS menambah tarif bagi produk impor sebesar US$300 miliar.
"Optimisme terkait damai dagang kembali menguat," jelas dia. (glh/lav)