TOP TALKS

Belajar dari Garasi, Noni Purnomo Warisi Kendali Blue Bird

Ulfa Arieza & Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Rabu, 10/07/2019 11:02 WIB
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Noni Purnomo. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni).
Jakarta, CNN Indonesia -- Terlahir sebagai putri seorang pengusaha taksi ternama, PT Blue Bird Tbk tak membuat Noni Sri Aryati Purnomo tumbuh menjadi remaja yang manja. Putri pertama dari pasangan purnomo Prawiro dan Endang Basuki ini justru menempa diri untuk terus banyak belajar tentang pengelolaan bisnis, hingga akhirnya dipercaya meneruskan tongkat estafet perusahaan keluarga.

Noni bercerita, pelajaran pertama berbisnis justru datang dari garasi rumahnya. Saat itu, Blue Bird mulai didirikan pada 1 Mei 1972.

"Karena mulai dari garasi dan saya juga tinggal di situ, sehingga involvement (keterlibatan) saya terhadap bisnis itu juga sudah terjadi dari waktu saya masih kecil. Banyak sekali hal-hal yang saya pelajari justru pada saat saya waktu kecil," tuturnya kepada CNNIndonesia.com.


Perempuan yang lahir pada 20 Juni 1969 silam ini banyak belajar tentang kejujuran, integritas, disiplin, kerja keras, hingga kekeluargaan dari orang-orang terdekatnya. Ia mengaku justru mendapatkan pelajaran tentang hidup dari sang nenek, almarhumah Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang merupakan pendiri Blue Bird. Tentu pula kedua orang tua turut mendukungnya.


Kakak dari Sri Adriyani Lestari Purnomo dan Adrianto Djokosoetono ini bahkan tak malu-malu untuk mulai bekerja di perusahaan sebagai pekerja paruh waktu sejak duduk di bangku SMA. Hal itu dilakukan untuk melakukan input data.

Noni tak lantas puas dengan kemampuan yang ia miliki. Ia memutuskan untuk meninggalkan tanah air guna mengenyam pendidikan di University of Newcastle, Australia. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil Jurusan Teknik Industri sehingga ia banyak belajar mengenai bisnis transportasi.

Hidup di luar negeri memberikan tantangan tersendiri bagi Noni. Ia tak hanya menghadapi tantangan berpisah jauh dari keluarga, tetapi juga dituntut beradaptasi dengan jurusan yang mayoritas diisi para lelaki.

"Di teknik industri saya banyak belajar bagaimana mengefisienkan proses bisnis, tesis saya yang terakhir adalah proyek efisiensi di bengkel," katanya.


Setelah kembali ke Tanah Air, Noni belajar tentang pemasaran di Jakarta Convention and Exhibition Bureau. Jiwa pekerjanya makin terasah.

Pagi hari, ia bekerja di Jakarta Convention and Exhibition Bureau, sedangkan malam harinya ia bekerja di Blue Bird.

Setelah 1,5 tahun menjalani kehidupan dengan pekerjaan ganda, Noni kembali terbang ke luar negeri untuk belajar University of San Francisco, Amerika Serikat. Demi mendukung kelancaran bisnis Blue Bird, ia mengambil Master of Business Administration (MBA), dengan dua konsentrasi yakni finance (keuangan) dan marketing (pemasaran).

Babak baru kehidupan dimulai ketika ia menamatkan S2. Noni mengaku ingin bekerja di luar negeri, bahkan ia sudah diterima di salah satu perusahaan multinasional di New York, AS. Namun, panggilan hatinya menuntunnya untuk pulang ke tanah air dan meneruskan usaha keluarga.

[Gambas:Video CNN]

"Waktu saya mau berangkat satu minggu sebelum pindah dari San Fransisco ke New York, nenek saya telpon. Nenek saya bilang kamu mendingan balik saja, karena kamu bisa kontribusi lebih banyak kalau kamu kembali ke perusahaan pada saat ini. Saya pikir oke, itu namanya juga panggilan. Jadi saya kembali ke Jakarta dan mulai bekerja full time di Blue Bird sampai sekarang," tuturnya.

Setelah itu, ia mengabdikan dirinya untuk membesarkan Blue Bird. Tahun 2013, Noni dipercaya sebagai Direktur Utama Blue Bird Grup. Tepat pada 22 Mei 2019, Noni diberikan amanah untuk menggantikan ayahnya Purnomo Prawiro sebagai Direktur Utama PT Blue Bird Tbk.

Bagaimana tantangan yang dihadapi Bos Taksi Blue Bires dalam menjalankan bisnisnya. Berikut cuplikan wawancara khusus CNNIndonesia.com dengan Noni Purnomo.

Belajar dari Garasi, Noni Purnomo Warisi Kendali Blue Bird

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2