Pernyataan The Fed Angkat Rupiah ke Rp14.067 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 11/07/2019 16:38 WIB
Pernyataan The Fed Angkat Rupiah ke Rp14.067 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.067 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (11/7) sore. Dengan demikian, rupiah menguat 0,46 persen dibandingkan penutupan Rabu (10/7), yakni Rp14.132 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.089 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.152 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.060 per dolar AS hingga Rp14.108 per dolar AS.

Sore hari ini, hampir seluruh mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,08 persen, baht Thailand menguat 0,16 persen, dolar Singapura menguat 0,23 persen, dan rupee India menguat 0,24 persen.


Kemudian, peso Filipina menguat 0,38 persen, yen Jepang menguat 0,4 persen, ringgit Malaysia menguat 0,44 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,69 persen. Di antara mata uang Asia, hanya dolar Hong Kong saja yang terlihat stagnan terhadap dolar AS.


Mata uang negara maju juga menunjukkan pergerakan yang sama. Euro menguat 0,2 persen terhadap dolar AS, poundsterling Inggris menguat 0,25 persen terhadap dolar AS, dan dolar Australia juga menguat 0,25 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah hari ini merupakan dampak dari pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell di hadapan kongres AS, Rabu (10/7) waktu setempat yang membuka peluang pihaknya  akan memangkas suku bunga acuannya pada rapat komite pasar federal terbuka (FOMC) akhir bulan ini.

Di dalam risalahnya, Powell menyebut bahwa pemangkasan suku bunga acuan Fed Rate dalam waktu dekat dapat membantu meminimalisir dampak dari guncangan terhadap ekonomi di masa depan.

"Langkah itu sejalan dengan janji Powell bahwa The Fed akan bertindak sesuai dalam merespons dinamika perekonomian AS maupun global. Di mana, saat ini ekspansi ekonomi AS terancam oleh perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia," terang Ibrahim, Kamis (11/7).

[Gambas:Video CNN]

Tak hanya dari AS, bank sentral negara lain juga menunjukkan sinyal serupa. Mantan Direktur Bank of Japan Kazuo Momma mengatakan bahwa bank sentral Jepang perlu mempertahankan kebijakan suku bunga yang rendah.

Terakhir, Bank Sentral Eropa juga dijadwalkan akan melakukan pertemuan pada hari ini untuk menentukan arah kebijakan suku bunga Eropa ke depan seiring riuhnya perang dagang dan dampak cerainya Inggris dari Uni Eropa, atau disebut dengan Brexit.

"Dalam pertemuan tersebut akan membahas risalah ekonomi zona Eropa yang melambat paska perang dagang dan Brexit sehingga perlu kembali menurunkan suku bunga acuan dan stimulus," jelas dia.

(glh/agt)