Ia menjelaskan negara-negara di dunia perlu waspada karena China merupakan negara dengan tingkat ekonomi terbesar kedua di dunia dan memegang peran penting dalam perdagangan global.
"Tentu pengaruh dari perlambatan dan pelemahan ekonomi China akan terlihat di dunia internasional," ungkap bendahara negara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen. Sementara Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memproyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini turun dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.
Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah saat ingin tengah berupaya mencari jalan keluar dari risiko tersebut. Salah satu caranya dengan mencari celah untuk memanfaatkan dampak perang dagang, yakni berupaya meningkatkan ekspor ke negara-negara yang menurunkan impor dari China.
Lalu, mengambil perhatian investor asing yang keluar dari China. "Oleh karena itu berbagai kebijakan untuk meningkatkan investasi itu akan kami terus fokuskan," tandasnya.
Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi China dilaporkan mencapai angka 6,2 persen pada kuartal II 2019. Capaian tersebut merupakan yang terendah dalam 27 tahun terakhir atau sejak 1992 silam.
Sementara pada kuartal I 2019, ekonomi negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping itu masih tumbuh sekitar 6,4 persen. Sejumlah pihak menilai penurunan ekonomi China terjadi karena dampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) sejak beberapa waktu terakhir.
[Gambas:Video CNN] (uli/agi)